Dampak Intensitas Penggunaan Video Call terhadap Kualitas Pertemanan LDR Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya 2025

Reyhana Safitri, Safira Yusvi Abbas, Aurel Saskia Putri Mareta
(Prodi Ilmu Pemerintahan, FISIP, Universitas Brawijaya)

Pendahuluan
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Kita memiliki dorongan untuk membangun hubungan persahabatan (Pratiwi & Lestari, 2017). Namun, bagi mahasiswa, mobilitas pendidikan seringkali memaksa persahabatan berubah menjadi hubungan jarak jauh. Dalam situasi ini, keterbatasan fisik menjadi tantangan nyata yang menguji kualitas hubungan. Intensitas dalam berkomunikasi terbukti menjadi hal penting dalam menjaga hubungan jarak jauh antar mahasiswa. Hal ini dibuktikan dalam studi Nuraeni dan Lalana (2024), di mana mahasiswa mempertahankan komunikasi mereka dengan memanfaatkan sarana seperti telepon, texting, dan video call.

Untuk menilai seberapa efektif interaksi yang terjadi secara objektif, penelitian ini membutuhkan ukuran yang jelas tentang kualitas hubungan pertemanan. Konsep yang dipakai di sini mengacu pada skala komponen kualitas hubungan yang dikembangkan oleh Fletcher et al. Untuk itu alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala The Perceived Relationship Quality Component (PRQC) yang sudah divalidasi oleh Fletcher et al. Skala ini terdiri dari item-item yang mengukur empat dimensi utama: Keintiman (Intimacy), Dukungan (Support), Komitmen (Commitment), dan Kepuasan (Satisfaction). Skala ini dipilih karena bisa mengukur secara menyeluruh apakah komunikasi lewat video call mampu memenuhi aspek penting yang dibutuhkan untuk menjaga pertemanan jarak jauh.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh intensitas penggunaan video call terhadap kualitas hubungan pertemanan yang menjalani jarak jauh. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berasumsi bahwa terdapat pengaruh dengan intensitas penggunaan video call terhadap kualitas pertemanan jarak jauh di kalangan mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya 2025.

Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Menurut Sugiyono & Lestari (2021) penelitian korelasional merupakan tipe penelitian dengan karakteristik berupa hubungan korelasional antara dua variabel atau lebih.
Untuk mengumpulkan data yang akurat dan relevan dengan tujuan penelitian, peneliti menggunakan metode kuesioner. Pada penelitian ini, digunakan kuesioner tertutup, di mana pilihan jawaban yang telah disediakan sebelumnya oleh peneliti dan melalui media google form. Responden penelitian ini memiliki kriteria yaitu (1) Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, (2) Menjalani pertemanan secara LDR.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Intensitas Video Call (X), Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kualitas Pertemanan (Y). Untuk mengukur variabel bebas (X) yaitu Intensitas Penggunaan Video Call, penelitian ini menggunakan serangkaian indikator yang mengadopsi konsep intensitas komunikasi. Instrumen ini terdiri dari 10 item pertanyaan yang diukur menggunakan Skala Likert 5 poin (1 = Sangat Jarang hingga 5 = Sangat Sering). Untuk mengukur variabel terikat (Y) yaitu Kualitas Hubungan, penelitian ini mengadaptasi model Perceived Relationship Quality Components (PRQC) dari Fletcher et al. (2000) yang disesuaikan dengan konteks persahabatan. Skala ini terdiri dari item-item yang mengukur empat dimensi utama: Keintiman (Intimacy), Dukungan (Support), Komitmen (Commitment), dan Kepuasan (Satisfaction). Setiap item dinilai menggunakan Skala Likert 5 poin (1 = Tidak Pernah hingga 5 = Sangat Sering).

Hasil dan Pembahasan

Hubungan antara Intensitas Video Call dan Kualitas Pertemanan
Dalam penelitian kuantitatif, pengujian korelasi dan hipotesis merupakan langkah dalam analisis statistik. Pada penelitian ini, uji tersebut dilakukan menggunakan Excel, dengan hasil data sebagai berikut:

Tabel 1. Uji Korelasi*

Berdasarkan pengujian korelasi Pearson Product Moment, penelitian ini menemukan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara intensitas penggunaan video call dengan kualitas pertemanan jarak jauh (LDR) (r = 0.817, p < 0.001). Nilai r berada di rentang 0.80 – 1.00, yang dalam statistik dikategorikan sebagai korelasi sangat kuat. Ini berarti intensitas video call adalah prediktor yang sangat akurat untuk menentukan kualitas hubungan. Karena nilainya positif (+), artinya semakin sering dan intens mahasiswa melakukan video call, maka semakin tinggi pula kualitas pertemanan yang mereka rasakan.

Tabel 2. Statistik Intensitas Video Call dan Pola Penggunaan*

Analisis terhadap Tabel 2 mengungkap bahwa mahasiswa secara signifikan lebih cenderung melakukan video call secara spontan (Mean 3.85) dibandingkan dengan penjadwalan formal (Mean 2.32). Hal ini menandakan tingkat kenyamanan dan aksesibilitas yang sangat tinggi, di mana batasan privasi menjadi lebih fleksibel di antara sahabat dekat. Durasi yang dominan di atas 30 menit (Mean 3.83) dengan modus 5 (Sangat Sering) menandakan bahwa interaksi ini bukan sekadar perbincangan singkat. Hal ini dapat diperkuat lewat kacamata Social Information Processing Theory oleh Joseph Walther (2008) yang di mana durasi panjang ini memungkinkan akumulasi informasi sosial yang masif, yang secara teoritis memprediksi pemahaman interpersonal yang mendalam dan akurat.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa beradaptasi untuk membangun kedalaman hubungan melalui media digital. Hal ini terbukti dari tingginya intensitas interaksi, di mana durasi panggilan yang kerap melebihi 30 menit (Mean=3.81) serta frekuensi mingguan yang konsisten (Mean=3.47). Upaya mahasiswa untuk menjembatani jarak dengan memaksimalkan tatap muka virtual terbukti mampu menciptakan ikatan emosional yang setara dengan pertemuan fisik, bahkan dinilai lebih efektif dalam merawat pertemanan dibandingkan sekadar bertukar pesan teks (Mean=3.91)

Peran Video Call dalam Pemahaman Emosional
Bagian penting dari data ini adalah bagaimana responden mengartikan dampak emosional dari video call terhadap kualitas hubungan mereka secara keseluruhan. Data menunjukkan kepuasan yang tinggi terhadap aspek emosional dari video call.

Tabel 3. Persepsi Kualitas Hubungan dan Dampak Psikologis*

Skor tertinggi ditemukan pada indikator “menjaga koneksi” (Mean 4.09) dan “memahami perasaan melalui ekspresi wajah” (Mean 4.06). Ini membuktikan bahwa bagi mahasiswa, elemen visual yang menunjukkan isyarat wajah penting untuk memvalidasi emosi teman mereka.
Hal ini sejalan dengan temuan Sherman et al. (2013) yang menyatakan bahwa pada pertemanan yang sudah ada, video call meningkatkan ikatan secara signifikan dibandingkan hanya audio atau teks. Video call memungkinkan transmisi isyarat afeksi non-verbal (senyuman, anggukan empati) yang memperkuat ikatan yang sudah terbentuk.

Dalam konteks pertemanan LDR mahasiswa, video call berfungsi sebagai media yang yang mampu mengurangi kerancuan pesan. Hal ini berdampak langsung pada komponen Keintiman (Intimacy) dalam kerangka kualitas hubungan Fletcher et al. Responden merasakan kedekatan emosional pasca-panggilan (Mean=3.83) dan mendapatkan dukungan emosional yang valid (Mean=3.81).

Berdasarkan hasil uji korelasi yang menunjukkan nilai sebesar 0,817 dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat kuat antara intensitas penggunaan video call dan kualitas pertemanan. Artinya, semakin tinggi intensitas penggunaan video call yang dilakukan, maka cenderung semakin tinggi pula kualitas hubungan pertemanan yang dirasakan, begitu pula sebaliknya. Hasil penelitian ini memperoleh dukungan empiris dari sejumlah studi terdahulu. Baik penelitian oleh Rahayu et al., (2024) maupun Wijaya & Loisa, (2024) menyimpulkan bahwa variabel intensitas komunikasi memiliki pengaruh yang nyata terhadap kualitas hubungan berpasangan.

Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang sangat kuat dan signifikan antara intensitas penggunaan video call dan kualitas pertemanan jarak jauh (LDR) di kalangan mahasiswa Ilmu Pemerintahan di Universitas Brawijaya angkatan 2025 (r=0.817, p < 0.001). Video call berfungsi sebagai media yang mampu mengurangi kerancuan pesan karena fitur visualnya, yang terbukti penting untuk memahami perasaan melalui ekspresi wajah dan menjaga koneksi. Pola penggunaan menunjukkan intensitas tinggi yang ditandai dengan interaksi spontan dan durasi panggilan yang sering di atas 30 menit.

Ditinjau melalui lensa Perceived Relationship Quality Components (PRQC), video call terbukti sukses memenuhi empat dimensi kualitas hubungan. Dimensi keintiman dan kepuasan muncul sebagai aspek paling dominan. Lebih jauh, video call berfungsi sebagai mekanisme dukungan yang efektif, menyediakan ruang validasi emosional yang nyata di tengah isolasi jarak, sekaligus menjadi aksi nyata dari komitmen kedua belah pihak untuk terus mengusahakan waktu dan upaya dalam merawat persahabatan yang menunjukkan bahwa semakin sering dan intens mahasiswa melakukan video call, maka semakin tinggi pula kualitas pertemanan yang mereka rasakan.

Implikasi penting bagi mahasiswa LDR adalah bahwa memanfaatkan intensitas dan kekayaan media dari video call merupakan alat utama yang efektif untuk menciptakan kehadiran sosial dan memastikan persahabatan tidak hanya bertahan, tetapi berkembang secara berkualitas.

Saran untuk peneliti selanjutnya adalah mengeksplorasi lebih dalam mengenai keterbatasan media video call dalam penyelesaian konflik dan bagaimana dinamika emosional, khususnya tingkat ambiguitas atau ketegangan emosional, mempengaruhi preferensi pemilihan media (Face-to-Face vs. Video Call) dalam konteks LDR.

*Tabel terlampir pada link berikut: https://docs.google.com/document/d/1vlrkTwPZ6ERAre1BM9B5NCHw8em0tcnfGcShq6rOgK4/edit?tab=t.0

Daftar Pustaka
Fletcher, G. J. O., Simpson, J. A., & Thomas, G. (2000). The measurement of Perceived Relationship Quality Components: A confirmatory factor analytic approach. Personality and Social Psychology Bulletin, 26, 340-355.
Pratiwi, N. M. A. Y., & Lestari, M. D. (2017). Perbedaan Kualitas Komunikasi Antara Individu Dewasa Awal Yang Berpacaran Jarak Jauh Dan Jarak Dekat Di Denpasar. Jurnal Psikologi Udayana, 4(1), 130–138. https://doi.org/10.24843/jpu.2017.v04.i01.p14
Rahayu, A. A., Sandy, F., & Suryaningtyas, A. A. (2024). The Effect of Interpersonal Communication Intensity on Long Distance Relationship Success. Ahmad Dahlan International Conference on Communication and Media, 02(01), 235–241. https://doi.org/10.26555/adiccom.v2i1.15507
Sherman, D. K. (2013). Self-affirmation: understanding the effects. Soc. Personal. Pshychol. Compass. In press.
Sugiyono, S., & Lestari, P. (2021). Metode penelitian komunikasi (Kuantitatif, kualitatif, dan cara mudah menulis artikel pada jurnal internasional). Alvabeta Bandung, CV.
Walther, J. (2008). Social information processing theory: Impressions and relationship development online. In The international encyclopedia of communication. Wiley-Blackwell. https://doi.org/10.4135/9781483329529.n29
Wijaya, A. F. G., & Loisa, R. (2024). Intensitas Komunikasi terhadap Kualitas Hubungan Berpacaran Mahasiswa. Koneksi, 8(1), 68–74. https://doi.org/10.24912/kn.v8i1.27531

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *