Pengaruh Nikotin dalam Rokok Tembakau terhadap Psikologis Remaja Lulusan Baru SMA/SMK

Stanislaus Suluh
(Universitas Brawijaya)

Pendahuluan
Masa remaja merupakan fase peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan kognitif. Pada fase ini, remaja berada dalam proses pencarian jati diri dan kerap mengalami tekanan psikologis, terutama ketika berada pada tahap akhir pendidikan menengah. Remaja lulusan baru SMA/SMK dihadapkan pada tuntutan untuk menentukan arah hidup, baik melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja. Kondisi tersebut sering menimbulkan kecemasan, stres, dan kebingungan.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, sebagian remaja mencari pelarian, salah satunya melalui aktivitas merokok. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang, dengan persentase remaja usia 10–18 tahun sebesar 7,4%. Selain itu, data Badan Pusat Statistik Provinsi DI Yogyakarta menunjukkan tingginya angka konsumsi rokok pada kelompok usia muda. Fakta ini menunjukkan bahwa rokok telah menjadi bagian dari kehidupan remaja.
Salah satu faktor utama yang mendorong perilaku merokok adalah kandungan nikotin dalam rokok. Nikotin bersifat adiktif dan dapat memengaruhi kerja otak dengan merangsang pelepasan dopamin, yaitu neurotransmitter yang menimbulkan rasa senang, tenang, dan fokus. Efek ini membuat rokok sering dianggap sebagai sarana untuk mengurangi stres dan tekanan psikologis. Oleh karena itu, mini riset ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh nikotin terhadap kondisi psikologis remaja lulusan baru SMA/SMK.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengalaman dan pandangan remaja terkait perilaku merokok. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi literatur.
Wawancara dilakukan secara daring melalui panggilan suara WhatsApp terhadap tiga orang remaja lulusan baru SMA/SMK yang memiliki pengalaman merokok dan telah bekerja atau melanjutkan pendidikan. Studi literatur digunakan untuk memperkuat analisis, khususnya terkait kandungan nikotin, dampak psikologis, serta risiko kesehatan akibat merokok.

Hasil dan Pembahasan
Hasil wawancara menunjukkan bahwa mayoritas informan mulai merokok sejak masih bersekolah atau tidak lama setelah lulus SMA/SMK. Alasan utama pertama kali merokok adalah rasa penasaran, pengaruh teman sebaya, serta lingkungan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku merokok pada remaja tidak terlepas dari faktor sosial.
Reaksi orang tua terhadap perilaku merokok beragam. Sebagian orang tua tidak mengetahui kebiasaan merokok anaknya, sementara sebagian lainnya bersikap permisif selama anak mampu bertanggung jawab atas dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa merokok kerap menjadi aktivitas yang dilakukan secara tersembunyi sebagai bentuk pelarian dari tekanan psikologis tanpa harus berhadapan langsung dengan konflik keluarga.
Pada pengalaman awal merokok, informan merasakan efek tidak nyaman seperti pusing, batuk, dan tenggorokan sakit. Namun, seiring waktu, efek tersebut berubah menjadi perasaan tenang, rileks, dan lebih fokus. Efek inilah yang membuat informan terus melanjutkan kebiasaan merokok. Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan dopamin yang memberikan rasa nyaman secara psikologis, sehingga rokok dianggap membantu mengatasi stres dan kelelahan.
Bagi sebagian informan, rokok telah menjadi kebutuhan, sedangkan bagi yang lain berfungsi sebagai pelampiasan ketika mengalami tekanan. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat ketergantungan nikotin. Meski demikian, para informan menyadari bahwa merokok berdampak buruk bagi kesehatan, seperti meningkatkan risiko penyakit paru-paru, kardiovaskular, serta gangguan fungsi kognitif dan emosi.
Kesadaran akan bahaya rokok tidak serta-merta membuat informan berhenti merokok. Ketergantungan psikologis dan persepsi bahwa rokok membantu menjaga kestabilan emosi menjadi alasan utama sulitnya berhenti. Meskipun demikian, informan menyatakan keinginan untuk mengurangi intensitas merokok dan tidak menyarankan remaja lain untuk mulai merokok.

Kesimpulan
Masa remaja, khususnya setelah lulus SMA/SMK, merupakan periode yang sarat tekanan psikologis. Dalam menghadapi kondisi tersebut, sebagian remaja memilih merokok sebagai sarana pelampiasan emosi. Nikotin dalam rokok memberikan efek psikologis berupa rasa tenang dan senang melalui pelepasan dopamin, sehingga memperkuat kebiasaan merokok.

Meskipun rokok dianggap membantu secara psikologis, dampak negatifnya terhadap kesehatan tetap menjadi risiko serius. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran diri, dukungan lingkungan, serta alternatif penyaluran stres yang lebih sehat agar remaja tidak bergantung pada rokok sebagai solusi atas tekanan psikologis.

Daftar Pustaka
Sulhan, N. A. A., Ardaniah, N. H., Nasrullah, & Rahmadi, M. S. (2024). Periodisasi Perkembagan Anak Pada Masa Remaja: Tinjauan Psikologi. Jurnal Pendidikan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene, Vol. 1, No. 1.
Husna, S., Nurwati, R. N., & Santoso, B. M. (2023). IDENTIFIKASI ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH JENJANG SD DAN SMA DI INDONESIA TAHUN 2021. JPPM. Universitas Padjajaran, Vol. 3, No. 2:96–104
Patana, D. H. & Elon, Y. (2019). Fenomena Merokok Pada Remaja Putri: Studi Kualitatif. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis. Universitas Advent Indonesia, Vol. 14, No. 4
Tarmizi, S. N. (2024, 29 Mei). Perokok Aktif di Indonesia Tembus 70 Juta Orang, Mayoritas Anak Muda. Berita Kemenkes. https://kemkes.go.id/id/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda
Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas yang Merokok dalam Sebulan Terakhir Menurut Kabupaten/Kota dan Kelompok Umur di Provinsi DI Yogyakarta, 2024. (2025, 11 Juli). Badan Pusat Statistik Provinsi DI Yogyakarta. https://yogyakarta.bps.go.id/id/statistics-table/3/ZGxsdU15dEtNWEpNYmpCSUsyVkdaRnBpVkV0dVFUMDkjMw==/persentase-penduduk-usia-15-tahun-ke-atas-yang-merokok-dalam-sebulan-terakhir-menurut-kabupaten-kota-dan-kelompok-umur-di-provinsi-di-yogyakarta–2020.html
Budiyanto. (2025, 10 September). Mengenal Hormon Dopamin, Fungsi dan Manfaatnya pada Tubuh. halodoc. https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-hormon-dopamin-fungsi-dan-manfaatnya-pada-tubuh#h-apa-itu-dopamin
Abdussamad, Z. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Penerbit: Syakir Media Press.
Solihin, Nyorong, M., Nur’aini, & Siregar, D. M. S. (2023). Perilaku Merokok pada Remaja dan Faktor Penyebabnya di SMA 2 dan SMA 8 Muhammadiyah Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu. Institus Kesehatan Helvetia Medan, Vol. 3, No. 1.
Marieta, A., & Lestari, K. (2022). NARRATIVE REVIEW: ROKOK DAN BERBAGAI MASALAH KESEHATAN YANG DITIMBULKANNYA. Jurnal Farmaka. Universitas Padjajaran, Vol. 20, No. 2

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *