Indra Ferdian (Universitas Negeri Malang)
Dalam catatan sejarah militer, tidak semua kemenangan layak dirayakan. Istilah “Kemenangan Pyrrhic” merujuk pada Raja Pyrrhus dari Epirus yang pada waktu itu mengalahkan Romawi di Pertempuran Asculum (279 SM). Ia meratap bahwa “Satu kemenangan lagi seperti ini, dan aku akan binasa.” Ia menang secara taktis, namun kenyataannya kehilangan seluruh perwira dan kekuatan tempur utamanya.
Narasi seperti ini juga terjadi di Nusantara pada abad ke-17, Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau dikenal sebagai VOC juga pernah meraih kemenangan serupa saat menguasai Kepulauan Banda pada tahun 1621. Hasil pertempuran terbilang sangat mahal, dikarenakan bukan sekadar nyawa, melainkan hancurnya tatanan sosiologis dan legitimasi moral bagi VOC, yang kelak menghantui mereka selama berabad-abad. Kemenangan ini adalah kegagalan sebuah korporasi dalam memahami nilai kemanusiaan di balik angka perdagangan.
Superioritas Teknologi dan Mesin perang
VOC memenangkan pertempuran di Banda bukan karena keberanian yang lebih unggul, melainkan karena asimetri teknologi. VOC melengkapi pasukannya di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen dengan meriam kaliber berat dan senapan musket yang mampu menjangkau sasaran melampaui jarak panah atau tombak penduduk Banda. Benteng dan logistik Belanda menjadi kunci penting, dengan mengontrol titik-titik strategis secara permanen, sesuatu yang sulit ditembus oleh gerilya rakyat Banda. Bagi penduduk Banda sendiri, teknologi pertahanan mereka yang berbasis pada alam dan benteng batu tradisional tidak cukup untuk menahan strategi pengepungan total yang diterapkan oleh VOC.
Birokrasi Politik: Organisasi yang dingin
Selain teknologi, senjata rahasia VOC dan pihak Belanda adalah birokrasi politik yang terpusat. VOC adalah negara dalam negara (staat buiten de staat), sehingga struktur organisasinya yang memiliki hak oktroi memungkinkan Coen untuk mengambil keputusan ekstrem tanpa harus menunggu konstitusi panjang layaknya sistem para tetua di Banda. Birokrasi itu juga memungkinkan mobilisasi tentara bayaran dari Asia Timur, seperti samurai Jepang, secara efisien. Di sisi lain, masyarakat Banda yang berbasiskan pada musyawarah antardesa atau dikenal juga sebagai ‘Orang Kaya’ memiliki kesulitan menghadapi kecepatan koordinasi mesin birokrasi Barat yang berorientasi pada hasil absolut, yang tidak lain ialah monopoli pala.
Kemenangan Pyrrhic bagi VOC
Meskipun secara fisik Banda dikuasai dan penduduk aslinya nyaris punah akibat genosida yang dilakukan oleh VOC pada tahun 1621. Kemenangan tersebut justru meninggalkan ranjau besar bagi VOC maupun Belanda. Terbukti, setelah pemusnahan penduduk asli, VOC menghadapi kesulitan dalam memproduksi pala, diakibatkan oleh kehilangan petani ahli pala. Impor budak menjadi opsi, namun banyak budak yang tidak memahami cara merawat pohon pala, yang menyebabkan penurunan kualitas produksi. Disusul oleh biaya keamanan yang mulai membengkak, karena kekosongan pulau memaksa VOC untuk membiayai garnisun militer secara masif untuk menjaga kepulauan kosong, yang secara finansial menggerogoti keuntungan jangka pendek VOC. Penaklukan terhadap Banda menjadi noda hitam dalam sejarah kolonial Belanda yang memicu resistensi di wilayah lain di Nusantara.
Kemenangan Belanda di Banda adalah bukti bahwa teknologi dan birokrasi dapat memenangkan pertempuran, namun tidak dapat membangun keberlanjutan. VOC meraih tanah dan rempahnya, tetapi kehilangan jiwa dari moral perdagangan itu sendiri. Kelak mereka mulai bertanya-tanya, apakah sebuah kemenangan masih bisa disebut menang jika mereka menghancurkan ekosistem yang seharusnya mereka kelola.
Daftar Pustaka
Egbert Jacobs, D. M. (2014). Tentang VOC dan arsipnya itu sendiri. Dalam VOC, Daghregister (hal. 10). Arsip Nasional Republik Indonesia.
Key, C. (2020, maret 6). Odd tales from the history of the Banda Islands. Diambil kembali dari Story of Nutmeg and the Banda Islands: https://www.collin-key.com/story-of-banda-nutmeg/
Nur Isma Lailiyah, A. K. (2021). Merawat ingatan peristiwa genosida dan dominasi VOC di Banda tahun 1621 (dalaml perspektif sosial-ekonomi). Historiography, 9(Universitas Negeri Malang), 9.
Farid, M. (2024). DARI MEMORIA PASSIONIS MENUJU TRUESTORIOGRAFI: Peristiwa Genosida Banda Tahun 1621 Sebagai Refleksi. BANDA HISTORIA: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Studi Budaya, 2(1), 47-58. https://doi.org/10.62176/bastoria.v2i1.382