Surya Aman Damme Nadeak, Rahmad Ikhwan Abdillah, Aisyah Mustikaning Wahidiyah & Siti Nururin Kamilah
(Prodi Ilmu Pemerintahan, FISIP, Universitas Brawijaya)
Pendahuluan
Ontologi Objek Material: Dampak Ekonomi Pariwisata
Objek material penelitian ini adalah dampak ekonomi wisata paralayang di Gunung Banyak terhadap masyarakat lokal. Secara ontologis, dampak ekonomi pariwisata merupakan fenomena nyata yang terobservasi melalui perubahan pendapatan, lapangan kerja, dan peluang usaha baru (Bull, 1991; Mathieson dan Wall, 1982). Wisata paralayang di Kota Batu semakin diminati generasi muda dan berkontribusi pada pendapatan daerah (Republika.co.id, 2023), namun penelitian tentang perubahan ekonomi masyarakat sekitar masih terbatas. Studi ini menjawab sejauh mana dampak ekonomi yang ditimbulkan, dan faktor apa yang memengaruhi variasi dampak tersebut pada masyarakat.
Objek Formal: Perspektif Ekonomi Pariwisata
Penelitian ini menggunakan pendekatan ekonomi pariwisata karena memberikan kerangka sistematis untuk memahami bagaimana aktivitas wisata menghasilkan keuntungan ekonomi dan distribusinya dalam masyarakat (Sinclair dan Stabler, 1997). Pendekatan ini memungkinkan pengukuran dampak secara konkret seperti perubahan pendapatan, munculnya usaha baru, dan peningkatan kesejahteraan, serta telah terbukti efektif dalam penelitian serupa (Spillane, 1987; Yoeti, 2008; Pitana dan Gayatri, 2005).
Teori yang Digunakan: Dampak Ekonomi Pariwisata
Penelitian ini menggunakan Teori Dampak Ekonomi Pariwisata dari Mathieson dan Wall (1982) sebagai dasar analisis karena teori ini secara langsung membahas perubahan nyata dalam kehidupan ekonomi masyarakat lokal akibat kegiatan wisata. Berbeda dengan teori lain yang fokus pada perhitungan ekonomi makro, teori ini melihat pariwisata sebagai penggerak perubahan yang menciptakan lapangan kerja, membuka usaha baru, dan meningkatkan kesejahteraan warga lokal. Teori ini sesuai dengan kondisi di Gunung Banyak di mana masyarakat yang sebelumnya bergantung pada pertanian kini memiliki sumber pendapatan lebih beragam seperti membuka warung, menjadi tukang ojek, atau petugas parkir.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali dampak wisata Paralayang Gunung Banyak terhadap perekonomian warga sekitar. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pelaku usaha lokal. Wawancara difokuskan pada perubahan pendapatan, jumlah pengunjung, serta peluang usaha baru yang muncul setelah wisata paralayang berkembang.
a. Pengalaman Langsung:
Observasi di Paralayang Gunung Banyak menunjukkan dampak ekonomi signifikan dengan munculnya penjual makanan, tour guide, ojek, dan penitipan helm. Banyak warga yang sebelumnya bekerja di sektor pertanian beralih atau menambah penghasilan dari pariwisata. Petugas loket mengaku pendapatannya meningkat dengan pekerjaan lebih ringan. Namun, fasilitas seperti ruang administrasi dan tempat penitipan helm dinilai kurang layak dan membutuhkan perhatian pemerintah. Secara sosial, masyarakat lebih aktif mengelola potensi lokal dan mempromosikan usaha melalui media sosial untuk meningkatkan kesejahteraan.
b. Dokumen:
Selain observasi dan wawancara, penelitian ini menggunakan data dari BPS Kota Batu serta publikasi media nasional seperti Kompas, Tempo, dan CNN Indonesia sebagai sumber informasi pendukung.
Pembahasan
Penelitian ini berkontribusi dalam memahami dampak wisata petualangan seperti paralayang terhadap ekonomi masyarakat lokal di Indonesia. Mengingat literatur tentang dampak ekonomi wisata adventure di Indonesia masih terbatas, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi peneliti lain dan memperkaya khazanah akademik di bidang pariwisata Indonesia.
- Bagaimana perubahan pendapatan warga setelah adanya wisata paralayang
Perubahan pendapatan masyarakat sekitar wisata paralayang menunjukkan dinamika yang menarik untuk dicermati. Penelitian ini menggunakan Teori Dampak Ekonomi Pariwisata dari Mathieson dan Wall (1982) yang menjelaskan bahwa pariwisata memberikan dampak langsung pada pendapatan masyarakat lokal melalui transaksi ekonomi antara wisatawan dengan pelaku usaha setempat. Berbeda dengan pekerjaan formal bergaji tetap, pendapatan warga mengalami kondisi yang naik turun sehingga sangat bergantung pada pola kunjungan wisatawan.
Temuan lapangan menunjukkan pola pendapatan yang sangat dipengaruhi oleh waktu dan momen kunjungan. Pada hari kerja, kawasan cenderung sepi dengan aktivitas ekonomi yang berjalan lambat dan pendapatan relatif rendah. Kondisi berbeda terjadi saat akhir pekan ketika jumlah pengunjung meningkat drastis karena wisatawan memanfaatkan waktu libur, berdampak langsung pada lonjakan omzet para pedagang. Lonjakan paling signifikan terjadi pada tahun baru dan liburan panjang, di mana pendapatan dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dari hari biasa. Pada periode tersebut, warung makan penuh sesak, jasa penitipan helm menghadapi antrian panjang, dan pemandu paralayang bekerja tanpa jeda dari pagi hingga sore.
Salah satu informan yang mengelola jasa penitipan helm memberikan gambaran konkret tentang perubahan ekonomi yang terjadi. Sebelum wisata paralayang berkembang, informan ini bergantung pada perkebunan dan peternakan dengan hasil yang tidak menentu dan sering tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Setelah membuka usaha jasa penitipan helm, informan kini memiliki dua sumber pendapatan yang saling melengkapi. Meskipun tetap mengurus perkebunan dan peternakan, pendapatan utama kini berasal dari jasa penitipan helm yang terbukti jauh lebih menjanjikan, terutama saat musim liburan. Hal ini sejalan dengan konsep Mathieson dan Wall (1982) tentang dampak ekonomi sekunder, di mana pariwisata menciptakan peluang usaha baru dan diversifikasi sumber pendapatan bagi masyarakat lokal.
Namun demikian, perubahan pendapatan ini juga membawa tantangan tersendiri. Ketergantungan pada jumlah kunjungan wisatawan membuat pendapatan sangat rentan terhadap faktor eksternal. Kondisi cuaca menjadi faktor paling berpengaruh, terutama saat musim hujan ketika aktivitas paralayang tidak dapat dilakukan dengan aman sehingga kunjungan menurun drastis. Selain itu, munculnya destinasi wisata baru di sekitar kawasan mulai mempengaruhi jumlah kunjungan dan meningkatkan persaingan, sehingga pendapatan tidak selalu dapat diprediksi dengan pasti. Temuan ini mengonfirmasi bahwa dampak ekonomi pariwisata, sebagaimana dijelaskan oleh Mathieson dan Wall (1982), tidak selalu stabil dan merata melainkan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi permintaan wisata dan faktor-faktor eksternal lainnya. - Jenis usaha apa saja yang muncul di sekitar wisata paralayang
Berkembangnya wisata paralayang di Gunung Banyak telah menciptakan beragam peluang ekonomi bagi masyarakat, sejalan dengan Teori Dampak Ekonomi Pariwisata Mathieson dan Wall (1982) yang menekankan bagaimana sektor pariwisata menghasilkan efek berganda pada ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan peluang usaha.
Sektor kuliner mendominasi dengan kehadiran sekitar 7 kios yang menyediakan makanan berat seperti nasi goreng dan soto, hingga camilan ringan. Menariknya, mie instan menjadi produk terlaris karena cocok dinikmati di udara pegunungan yang sejuk dan penyajiannya praktis saat wisatawan menunggu giliran terbang. Jasa transportasi informal berkembang pesat dengan warga memanfaatkan sepeda motor menjadi ojek. Mereka tak hanya mengantarkan wisatawan, tapi juga berperan sebagai pemandu lokal yang memberi informasi tentang cuaca dan tips berwisata. Usaha penitipan helm menjadi kebutuhan penting bagi pengunjung bermotor. Salah satu informan mengakui pendapatan dari usaha sederhana ini lebih menjanjikan dibanding pekerjaannya dulu di perkebunan dan peternakan, dengan modal minim namun hasil signifikan terutama saat akhir pekan. Pekerjaan sebagai pemandu paralayang membuka peluang bagi pemuda lokal yang perlu keahlian khusus dan sertifikasi keamanan, dengan penghasilan relatif lebih tinggi. Seorang informan yang bekerja sebagai petugas loket menuturkan hidupnya berubah drastis. Dahulu ia hanya tukang kebun berpenghasilan pas-pasan dengan beban kerja berat. Kini pekerjaannya lebih ringan namun memberikan pendapatan lebih stabil, didukung sistem digital yang efisien.
Sesuai teori Mathieson dan Wall tentang dampak distribusi pendapatan, wisata ini membuka akses ekonomi bagi kelompok marginal. Ibu rumah tangga kini memiliki penghasilan mandiri tanpa harus merantau, cukup berjualan di sekitar area wisata. Seorang informan bahkan telah menjalankan usahanya enam tahun, membuktikan keberlanjutan ekonomi pariwisata ini bukan sekadar fenomena sesaat. Hal ini menunjukkan paralayang telah menciptakan ekosistem ekonomi inklusif yang memberdayakan berbagai lapisan masyarakat lokal. - Sejauh Mana Kesejahteraan Masyarakat Meningkat
Peningkatan kesejahteraan masyarakat terlihat dari tiga aspek utama yang sejalan dengan Teori Dampak Ekonomi Pariwisata Mathieson dan Wall (1982). Pertama, terjadi pergeseran mata pencaharian dari ketergantungan penuh pada sektor primer seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan yang hasilnya musiman dan tidak pasti, menuju sektor pariwisata yang menawarkan sumber pendapatan lebih beragam dan berkelanjutan. Kedua, transformasi pekerjaan mengubah kehidupan warga secara konkret, petani yang dulu hanya menanti panen kini membuka warung kopi di jalur wisata, ibu rumah tangga yang semula tanpa penghasilan aktif berdagang kuliner, pemuda pengangguran mendapat pekerjaan sebagai ojek atau petugas parkir, dan seorang informan yang dulunya tukang kebun beralih menjadi pengelola paralayang dengan kerja lebih ringan namun pendapatan lebih baik. Ketiga, pemberdayaan ekonomi lokal memungkinkan warga bertahan di kampung halaman tanpa perlu merantau mencari nafkah ke kota besar. Meski membawa dampak positif, peningkatan kesejahteraan ini menghadapi beberapa hambatan seperti ketergantungan pada fluktuasi kunjungan wisatawan yang musiman, infrastruktur pendukung seperti tempat penitipan helm yang butuh perbaikan dan ruang tunggu yang terlalu sempit, munculnya destinasi wisata kompetitor, serta cuaca tak menentu yang mengganggu operasional dan pendapatan harian - Studi literatur :
Data Badan Statistik Kota Batu tahun 2022 mencatat Wisata Gunung Banyak berada di peringkat 9 dengan 54.305 kunjungan wisatawan lokal (Sumber: Dinas Pariwisata Kota Batu & Badan Statistik Kota Batu Tahun 2022). Mengutip dari CNN Indonesia, tarif paralayang dimulai dari Rp500 ribu, paket sunrise Rp650 ribu, hingga paket VIP Rp1 juta, yang berdampak signifikan bagi perekonomian masyarakat sekitar.
Kesimpulan
Paralayang di Gunung Banyak Kota Batu telah menggeser pola ekonomi masyarakat sekitar. Warga yang sebelumnya hanya bertani dan berkebun kini mempunyai penghasilan tambahan dari warung, parkir, pemandu paralayang, dan jasa penitipan helm. Ini sesuai dengan Teori Dampak Ekonomi Pariwisata Mathieson dan Wall (1982) yang menyatakan bahwa pariwisata dapat menciptakan peluang usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan lokal. Pendapatan warga sangat fluktuatif ,dapat naik dua hingga tiga kali lipat saat weekend dan libur panjang, tapi juga rentan turun karena cuaca buruk dan persaingan dengan destinasi wisata lain. Dampak positifnya terlihat jelasyakni, ibu rumah tangga mempunyai penghasilan sendiri, pemuda dapat kerja tanpa merantau, dan pekerjaan yang lebih ringan namun menguntungkan. Meski begitu, tantangan tetap ada seperti infrastruktur kurang memadai dan ketergantungan pada kondisi alam. Secara keseluruhan, paralayang telah membangun ekosistem ekonomi lokal yang lebih beragam, walau masih butuh pengelolaan lebih baik.
Aksiologi
Penelitian ini bermanfaat bagi berbagai pihak sesuai Teori Dampak Ekonomi Pariwisata Mathieson dan Wall (1982). Masyarakat sekitar Gunung Banyak dapat lebih memahami peluang usaha dari wisata paralayang untuk mengambil keputusan ekonomi yang lebih tepat. Pemerintah daerah bisa menggunakan hasil penelitian sebagai acuan membuat kebijakan, memperbaiki infrastruktur, dan merancang program pemberdayaan yang sesuai kebutuhan warga. Sementara pengelola paralayang mendapat gambaran jelas tentang dampak ekonomi lokal sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan dan membangun kerjasama yang menguntungkan semua pihak.
Daftar Pustaka
Bull, A. (1991). The Economics of Travel and Tourism. Melbourne: Longman Cheshire.
Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Jawa Timur. (n.d.). Kota Batu. Diakses dari https://jatim.bpk.go.id/kota-batu/
Badan Pusat Statistik Kota Batu Tahun 2022 : https://batukota.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTQ5MyMx/jumlah-pengunjung-objek-wisata-dan-wisata-oleh-oleh-menurut-tempat-wisata-di-kota-batu–2022.html
CNN Indonesia. (2023, July 23). Wisata Paralayang Batu: Lokasi, harga tiket, dan fasilitas. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20230718131143-275-974835/wisata-paralayang-batu-lokasi-harga-tiket-dan-fasilitas
Pitana, I. G., & Gayatri, P. G. (2005). Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset
Republika.co.id. (2023). Potensi Pariwisata Kota Batu. Diakses dari https://www.republika.co.id
Sinclair, M. T., & Stabler, M. (1997). The Economics of Tourism. London: Routledge.
Spillane, J. J. (1987). Pariwisata Indonesia: Sejarah dan Prospeknya. Yogyakarta: Kanisius.
Wall, G., & Mathieson, A. (2006). Tourism: Change, Impacts and Opportunities. Harlow: Pearson Education.
Yoeti, O. A. (2008). Ekonomi Pariwisata: Introduksi, Informasi, dan Aplikasi. Jakarta: Kompas.