Hanna Az zahra Himawan, Alexa Hadinda dan Nessya Enelita Qisthy
(Ilmu Pemerintahan – Universitas Brawijaya)
Pendahuluan
Kata ‘nanti aja’ sering kali digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam interaksi sosial, bukan untuk menunda suatu pekerjaan tetapi sudah menjadi pola perilaku kolektif. Objek yang diteliti dalam kajian ini adalah ungkapan tersebut yang sudah dianggap biasa tetapi sebenarnya menyimpan banyak masalah kompleks. Latar belakang kajian objek ini adalah adanya sebuah paradoks: si satu sisi, ‘nanti aja’ diterima sebagai bagian dari dinamika sosial yang fleksibel dalam budaya kolektif yang mengutamakan harmoni (Searle, 1995); di sisi lainnya, kebiasaan ini justru menciptakan dampak negatif pada produktivitas, efektivitas kelompok, serta menimbulkan ketegangan interpersonal (Amalia, 2021).
Untuk membedah fenomena ini, objek formal yang digunakan adalah pendekatan interdisipliner yang memadukan sosiologi budaya dan psikologi sosial. Sudut pandang ini dipakai karena perilaku prokrastinasi ‘nanti aja’ tidak bisa dijelaskan sepenuhnya jika hanya dianggap sebagai masalah psikologis individu. Perilaku ini di konstruksi, diperkuat, dan dinormalisasi melalui norma dan praktik sosial dalam konteks budaya kolektif Indonesia (Hofstede, 1980). Teori yang paling relevan dalam kerangka ini adalah teori konstruksi sosial (Searle, 1995), yang menjelaskan bagaimana realitas – termasuk persepsi terhadap waktu dan kewajiban-dibentuk melalui kesepakatan dan interaksi sosial. Teori ini paling tepat karena menungkinkan kita untuk menganalisis ‘nanti aja’ bukan sebagai penyimpangan, melainkan sebagai produk dari nilai-nilai budaya seperti fleksibilitas waktu (‘jam karet’) dan strategi menjaga harmoni (face-saving). Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana fenomena ‘nanti aja’ dikonstruksi secara sosial dalam budaya kolektif Indonesia, mengidentifikasi faktor-faktor yang memperkuatnya, serta menganalisis dampaknya terhadap interaksi sosial dan produktivitas kelompok.
Metode Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian, mini riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui dua tahap: penyebaran kuesioner dan wawancara mendalam. Tahap pertama adalah penjaringan narasumber melalui kuesioner yang disebar pada mahasiswa kelas A-1. Sebanyak 18 mahasiswa berpartisipasi mengisi kuesioner dan berdasarkan hasil kuesioner teridentifikasi 2 mahasiswa yang menunjukkan kecenderungan prokrastinasi yang signifikan. Kedua mahasiswa ini kemudian dipilih sebagai narasumber untuk tahap wawancara mendalam. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan:
Dari kuesioner terlihat kamu sering menggunakan ‘Nanti Aja’ untuk hal yang sebenarnya bisa dikerjakan sekarang. Bisa cerita situasi terakhir dimana ini terjadi?
Saat kamu mengatakan ‘Nanti Aja’ untuk menghindari permintaan orang lain, bagaimana biasanya reaksi mereka? Bagaimana perasaanmu setelahnya?
Menurutmu, seberapa besar pengaruh lingkungan pertemananmu terhadap kebiasaan menunda?
Pembahasan
Dilihat dari teori konstruksi sosial, kebiasaan ‘nanti aja’ bukan hanya perilaku individu, tetapi sebuah realitas sosial yang dibentuk dan dipertahankan bersama. Intinya terletak pada cara masyarakat Indonesia memahami dan menegosiasikan waktu serta komitmen sosial. Salah satu konstruksi utamanya adalah pemaknaan waktu yang fleksibel (jam karet). Dalam budaya polikronik seperti Indonesia, waktu tidak dianggap sebagai sesuatu yang kaku dan harus diikuti secara tepat, melainkan sebagai hal yang bisa disesuaikan dengan konteks sosial dan pentingnya hubungan antarindividu (Triandis, 1995). Ungkapan ‘nanti aja’ berfungsi sebagai cara untuk menerapkan fleksibilitas ini, menempatkan penyelesaian tugas sebagai hal yang bisa ditunda demi menjaga keharmonisan relasi.
Indikator kedua dari konstruksi sosial ini adalah fungsi ‘nanti aja’ sebagai strategi untuk menjaga harmoni kelompok (face-saving). Dalam masyarakat kolektivis yang menghindari konflik langsung, menolak permintaan secara tegas dianggap tidak sopan dan bisa merusak hubungan. Karena itu, ‘nanti aja’ dipakai sebagai penolakan halus atau cara untuk mengelola ekspektasi tanpa menimbulkan konfrontasi. Perilaku ini, ketika dilakukan berulang kali dan diterima oleh anggota kelompok lain, secara bertahap menjadi norma yang tidak terucapkan. Konformitas terhadap norma ini membuat individu lain enggan untuk menuntut ketepatan waktu karena khawatir dianggap kaku atau merusak kebersamaan. Akibatnya, prokrastinasi yang semula bersifat individual bertransformasi menjadi fenomena kolektif, di mana penundaan menjadi perilaku yang diterima dan bahkan diekspektasikan dalam dinamika kelompok (Steel, 2007).
Wawancara mendalam yang dilakukan dengan dua narasumber yang teridentifikasi memiliki kecenderungan prokrastinasi dari hasil kuesioner memberikan data empiris yang memperkuat analisis ini. Berikut adalah kutipan jawaban dari salah satu narasumber yang merepresentasikan temuan kunci dari wawancara tersebut:
Menanggapi pertanyaan tentang situasi konkret penggunaan “nanti aja” dan dampaknya, narasumber menjelaskan, “Situasi terakhir terjadi saat rekan satu kelompok meminta data mentah untuk tugas kuliah. Saya berpikir, ‘Ah, kirimnya nanti sore aja sekalian beres-beres file.’ Padahal datanya sudah ada. Akibatnya, rekan saya tidak bisa mulai mengerjakan bagian analisanya karena menunggu data dari saya. Dia jadi harus lembur di malam hari karena saya baru mengirimnya sore. Di sini saya sadar kata ‘nanti aja’ dari saya ternyata mengacaukan jadwal orang lain dan membuat ritme kerja kelompok jadi tidak sinkron.”
Ketika ditanya mengenai reaksi orang lain dan perasaan setelahnya, ia mengungkapkan, “Biasanya reaksi awal mereka adalah menghela napas atau menunjukkan wajah kecewa, seolah-olah permintaan mereka tidak penting bagi saya. Lama-kelamaan, mereka jadi skeptis atau malah berhenti meminta tolong pada saya karena takut saya tunda lagi. Perasaan saya setelahnya campur aduk. Ada rasa bersalah yang besar karena saya tahu saya menjadi sumber hambatan. Saya merasa canggung dan hubungan kami jadi terasa berjarak (tidak harmonis) karena saya merasa telah mencederai kepercayaan mereka.”
Mengenai pengaruh lingkungan, narasumber menyatakan, “Sangat berpengaruh. Di lingkungan pertemanan saya, ada budaya mewajarkan keterlambatan atau ‘jam karet’. Ketika saya melihat teman lain menunda dan sepertinya ‘aman-aman saja’, itu menjadi validasi bagi saya untuk ikut menunda. Namun, dalam konteks pekerjaan, ini fatal. Karena kami sama-sama menunda, saat tenggat waktu mendekat, semua orang panik dan saling menyalahkan. Lingkungan yang mendukung prokrastinasi ini akhirnya menciptakan budaya kerja yang toxic dan penuh ketegangan, bukan kerja sama yang harmonis.”
Hasil wawancara ini secara gamblang menginformasi bagaimana prokrastinasi beropersi sebagai fenomena sosial. Pertama, penundaan tersebut secara langsung mengganggu alur kerja kolektif dan merugikan anggota tim lain, menunjukkan dampak nyata pada produktivitas kelompok. Kedua, perilaku ini secara bertahap merusak kepercayaan dan menciptakan jarak sosial, mengafirmasi fungsi ‘Nanti Aja’ sebagai pemecah hubungan. Ketiga, adanya ‘budaya mewajarkan’ di lingkungan pertemanan menjadi validasi sosial yang memperkuat kebiasaan menunda, membuktikan bahwa norma kelompok memainkan peran krusial dalam melanggengkan prokratinasi. Temuan ini secara langsung menunjukkan bagaimana dinamika kelompok dan norma sosial yang tidak terucapkan menjadi faktor pendorong utama di balik normalisasi perilaku ‘Nanti Aja’, melampaui sekadar kecenderungan pribadi.
Dampak dari konstruksi sosial ini bersifat ambivalen. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai ‘perekat sosial’ yang mengurangi tekanan dan menjaga keharmonisan. Namun, disisi lain ia menjadi ‘pemecah hubungan ‘ ketika penundaan yang berlarut-larut menyebabkan frustasi terpendam, erosi kepercayaan, dan ketidakefektifan dalam mencapai tujuan bersama. Kredibilitas individu yang sering menggunakan dalih ‘nanti aja’ akan menurun, menciptakan persepsi sebagai pribadi yang tidak dapat diandalkan. Secara psikologis, individu yang terjebak dalam budaya ini mengalami konflik antara identitas idealnya dengan kenyataan perilakunya yang terus menunda. Disonansi ini diperburuk oleh tekanan sosial untuk tetap fleksibel, menciptakan siklus penundaan yang sulit diputus karena telah dinormalisasikan siklus penundaan yang sulit diputus karena telah dinormalisasikan oleh lingkungan sosialnya. Dengan demikian ‘nanti aja’ adalah manifestasi kompleks dari bagaimana sebuah budaya mengelola trade-off antara efisiensi tugas dan keutuhan relasi sosial.
Kesimpulan
Temuan menarik dari mini riset ini menunjukkan bahwa fenomena ‘nanti aja’ bukan sekadar persoalan manajemen waktu individu, melainkan sebuah konstruksi sosial yang berakar kuat dalam budaya kolektif Indonesia. Pada dasarnya, ‘nanti aja’ berfungsi sebagai mekanisme sosial yang memiliki banyak peran: sebagai bentuk negosiasi terhadap konsep waktu yang fleksibel (jam karet), sebagai strategi komunikasi untuk menjaga keharmonisan dengan menghindari penolakan langsung (face-saving), dan sebagai norma kelompok yang mendorong konformitas. Meskipun berperan sebagai pelumas sosial, normalisasi perilaku menunda ini juga menimbulkan paradoks yang merugikan: mengikis kepercayaan, menurunkan produktivitas kolektif, dan memunculkan konflik batin bagi individu. Dengan demikian, ‘nanti aja’ mencerminkan bagaimana nilai budaya membentuk perilaku sehari-hari, dimana prioritas pada hubungan sosial sering kali mengorbankan efisiensi dan akuntabilitas. Temuan ini menjadi penting untuk merancang intervensi yang peka budaya, agar efektivitas sosial dapat ditingkatkan tanpa mengganggu harmoni.
Daftar Pustaka
Amalia, R. (2021). Prokrastinasi akademik di kalangan mahasiswa: Faktor dan dampaknya terhadap kualitas studi. Jurnal Psikologi Indonesia, 24(1), 88–100.
Canavallia, B. G., Jadidah, I. T., Dita, E. N., Hidayanti, F. N., & Pratiwi, S. (2023). Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Akibat Tekanan Sosial Dan Lingkungan Fisik. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM).
Hofstede, G. (1980). Culture’;s consequences: International differences in work-related values. Beverly Hills, CA: Sage Publications.
Searle, J. R. (1995). The Construction of Social Reality. The Free Press.
Steel, P. (2007). The Procrastination Equation: How to Stop Putting Things Off and Start Getting Stuff Done. Penguin.
Triandis, H. C. (1995). Individualism and collectivism. Boulder, CO: Westview Press.