Fenomena Peran Komunitas dan Teman Sebaya Sebagai Support System dalam Kehidupan Sosial Mahasiswa Fisip di Universitas Brawijaya

Chyntia Gita Chintami, Reva Putri Andrianasari, Albertrio Petrus Mano
(Universitas Brawijaya)

Penghantar/Pendahuluan
Dalam kehidupan perkuliahan, peran komunitas dan teman sebaya bukan hanya sebagai tempat berbagi cerita atau melepas penat, tetapi juga bisa menjadi faktor penting bagi mahasiswa untuk mendapatkan dukungan, dimengerti, dan juga merasa diterima. Secara ontologis, penelitian ini melihat komunitas dam teman sebaya sebagai bagian nyata dari kehidupan mahasiswa yang berpengaruh langsung pada kesehatan mental, motivasi belajar, dan kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan kampus. Mahasiswa yang berasal dari luar kota atau yang kita sebut dengan mahasiswa perantau tentunya kerap kali merasakan tekanan akademik, perasaan kesepian, hingga masalah penyesuaian diri (Ana Fitria, 2024). Fenomena inilah yang menjadi landasan dalam penelitian ini.
Objek formal pada penelitian ini ialah kami menggunakan pemikiran sudut pandang psikologi sosial dan psikologi pendidikan. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, hubungan antar teman sebaya menajdi faktor penting dalam pembentukan identitas diri, dan kemampuan adaptasi mahasiswa terhadap lingkungan perkuliahan. (RR. Hesti Setyodyah Lestari, 2023) mengemukakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam komunitas sebaya turut berkontribusi pada pembentukan nilai-nilai moral dan solidaritas sosial. Kedua pemikiran tersebut tersebut dipilih karena mampu menjelaskan bagaimana dukungan sosial bekerja, bagaimana hubungan teman sebaya memberi pengaruh emosional, dan bagaimana interaksi sehari-hari berperan dalam membentuk resiliensi mahasiswa. Teori dukungan sosial (Social Support Theory) dan teori resiliensi menjadi landasan utama karena keduanya menjelaskan bagaimana dukungan emosional, informasional, sosial dari lingkungan pertemanan atau komunitas berperan penting dalam menjaga kesehatan mental serta meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi tekanan. Selanjutnya kami menggunakam teori peer influence yang dimana ini menjelaskan bahwa perilaku, motivasi dan juga respon individu dapat dipengaruhi oleh teman sebaya. Teori ini kami pilih tentunya karena sebagian besar waktu mahasiswa dihabiskan bersama dengan rekan-rekan kampusnya sehingga dinamika pertemanan memiliki peran dalam membentuk pengalaman baik dalam akademik maupun emosional.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunitas maupun teman sebaya berperan sebagai support system bagi mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya. Kami ingin memvalidasi dan menunjukkan bahwa dukungan sosial bukan sekadar “butuh teman curhat” tetapi benar-benar mampu membantu mahasiswa mengatur stress, meningkatkan kesehatan mental, dan merasa lebih siap menghadapi tantangan perkuliahan. Hal inilah yang menjadikan penelitian ini penting untuk dikaji lebih mendalam.


Epistemologi/Metode Penelitian yang digunakan
Secara epistemologis, pemahaman tentang bagaimana komunitas dan teman sebaya berperan sebagai support system bagi mahasiswa diperoleh melalui langkah-langkah pengumpulan data yang bersifat ilmiah dan sistematis. Dalam mini riset ini, kami menggunakan dua metode utama, yaitu studi literatur dan pengumpulan data langsung melalui google form. Pertama, metode studi literatur dilakukan dengan menelusuri berbagai jurnal ilmiah nasional melalui platform seperti Google Scholar dan SINTA. Beberapa kata kunci yang digunakan mencakup “dukungan sosial teman sebaya” “mahasiswa rantau” “resiliensi akademik” dan “kesejahteraan psikologis mahasiswa. Kami mengakses sekitarnya 6 jurnal dengan rentan waktunya dimulai dari 2015-2024. Melalui studi literatur ini, kami memperoleh gambaran akademik yang kuat tentang bagaimana dukungan sosial bekerja, bagaimana hubungan teman sebaya terbentuk, serta bagaimana faktor psikologis mahasiswa dipengaruhi oleh interaksi sosial.
Setelah mendapatkan pemahaman secara teori selanjutnya kami mendalami fenomena ini melalui penyebaran google form yang dibuka selama dua hari, mulai dari 18 November 2025- 20 November 2025 dan disebarkan kepada mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya yang mendapatkan 25 responden. Melalui kuesioner ini, kami menanyakan pengalaman mereka terkait dukungan dari teman sebaya, sejauh mana komunitas kampus membantu mereka menghadapi tekanan akademik, dan bagaimana pengaruh hubungan sosial terhadap kondisi mental mereka. Pertanyaan dalam google form disusun secara sederhana agar responden merasa nyaman mengisi, namun tetap mampu menangkap esensi pengalaman pribadi mereka. Data diri dalam google form membantu kami melihat fenomena ini secara lebih nyata dan sesuai dengan kondisi mahasiswa UB saat ini.
Dengan menggabungkan temuan dari literatur ilmiah dan hasil kuesioner google form, penelitian ini memiliki landasan epistemologis yang lebih lengkap. Tidak hanya memahami fenomena dari sudut pandang teori, tetapi juga dari pengalaman mahasiswa secara langsung. Kombinasi dua metode ini memperkuat analisis yang kami lakukan dan memberikan gambaran yang lebih autentik mengenai peran komunitas serta teman sebaya sebagai support system mahasiswa Universitas Brawijaya.


Pembahasan
Hasil dari mini riset kami menunjukkan bahwa komunitas dan teman sebaya memiliki peran yang penting dalam membentuk pengalaman akademik maupun kesejahteraan psikologis mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya. Berdasarkan data yang terkumpul melalui google form, sebagian besar responden menyatakan bahwa keberadaan teman sebaya dan komunitas kampus sangat membantu mereka dalam menghadapi tantangan akademik maupun tekanan emosional, tentunya temuan ini selaras dengan teori dukungan sosial (social support theory) yang menekankan bahwa interaksi positif antarindividu mampu menciptakan rasa aman, meningkatkan motivasi dan memperkuat ketahan psikologis.
Ada sekitar 84% dari 25 responden memberikan pendapat bahwa dukungan paling penting adalah melalui dukungan emosional seperti membantu mendengarkan keluh kesah dan juga membantu memberikan semangat. Dukungan emosional dianggap sebagai dukungan utama bagi kesehatan psikologis mahasiswa, dan kemudian mahasiswa FISIP UB atau responden mengatakan bahwa dukungan sosial juga sangat penting bagi mereka, penting yang dimaksud disini ialah dengan adanya support system mahasiswa akan bersemangat untuk menjalani hari-hari berkuliahnya dan tentunya ini berkaitan dengan hasil nilai akhir mahasiswa. contoh dukungan sosial di tengah-tengah mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya ialah mengajak teman untuk berkegiatan diluar ketika mereka sedang merasa suntuk atau kehilangan motivasi untuk berkuliah. 78,3% dari 25 responden. Temuan ini mengonfirmasi bahwa faktor hubungan interpersonal berperan penting dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga.
Selain memerlukan dukungan emosional, mahasiswa juga membutuhkan dukungan akademik dan informasi seperti berbagi materi kuliah, membantu memahami tugas, atau mengingatkan tegat tugas. Hal ini berhubungan dengan teori peer influence yang dimana teori tersebut menjelaskan bahwa interaksi antarteman sebaya dapat membentuk pola perilaku positif, termasuk dalam meningkatkan produktivitas belajar. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa komunitas mahasiswa berfungsi sebagai ruang belajar informal yang dapat mendorong mahasiswa untuk lebih aktif , percaya diri, dan adaptif yang dimana teori yang dijelaskan oleh (Mumtaza, 2024) memperkuat data ini.
Selain dua teori utama, temuan hasil dalam riset ini juga bersinambungan dengan teori resiliensi. Banyak mahasiswa mengaku bertahan dari tekanan akademik dan perasaan homesick justru karena adanya dukungan dari teman sebaya. Maka bisa kita artikan bahwa hubungan sosial yang kuat mendorong terbentuknya resiliensi. Peran komunitas juga berpengaruh dalam mengurangi rasa kesepian dan homesick, khususnya bagi mahasiswa perntau. Memiliki nasib dan pengalaman yang serupa tentunya akan mempermudahkan mahasiswa tersebut untuk beradaptasi dan merasa diterima,. 78,3% dari 25 responden kami percaya bahwa dengan adanya dukungan dari teman sebaya atau komunitas sangat memberikan dampak bagi kesehatan mental mahasiswa salah satunya adalah “merasa diterima” tentunya ini membuktikan bahwa komunitas tidak hanya berfungsi sebagai ruang sosial, tetapi juga sebagai salah satu faktor yang membantu mahasiswa dalam menghadapi tekanan psikologis.
Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa komunitas dan teman sebaya tidak hanya memenuhi kebutuhan sosial mahasiswa, tetapi juga membentuk kesejahteraan psikologis yang berdampak pada produktivitas belajar, motivasi, dan kemampuan adaptasi mereka. Peran support system ini menjadi elemen penting yang menjelaskan mengapa mahasiswa mampu menghadapi tekanan akademik dan tetap bertahan. Dengan demikian, hubungan interpersonal bukan hanya pelengkap kehidupan kampus, melainkan menjadi fondasi utama perjalanan mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan di FISIP Universitas Brawijaya.


Kesimpulan
Berdasarkan mini riset yang telah dilakukan mengenai peran komunitas dan teman sebaya sebagai support system bagi mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya, kami menemukan sebuah kesimpulan bahwa dukungan emosional yang kuat adalah aspek yang paling menarik dari pengalaman mahasiswa FISIP UB. Ketika mahasiswa mengalami stress tentunya seseorang yang pertama kali ia hubungi ialah teman satu kampusnya, dukungan emosional yang konsisten dari teman sebaya menciptakan rasa kebersamaan, mengurangi rasa terisolasi, dan memberikan energi positif untuk tetap produktif. Dengan kata lain, keberadaan teman sebaya tidak hanya menjadi pelengkap kehidupan kampus, tetapi menjadi fondasi utama yang menjaga kesejahteraan mental mahasiswa. Temuan ini menegaskan bahwa mahasiswa tidak dapat berjalan sendiri—mereka sangat bergantung pada hubungan interpersonal yang sehat untuk menghadapi tantangan akademik dan emosional.


Daftar Pustaka
Ana Fitria, E. A. (2024). DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DAN SELF- REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA PERANTAU. PSIMPHONI, 5 No. 1.
Mumtaza, Y. (2024). PERAN TEMAN SEBAYA DALAM MENANGGULANGI HOMESICKNESS DAN STRESS AKADEMIK PADA MAHASISWA RANTAU.
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya, 13 No. 1.
RR. Hesti Setyodyah Lestari, R. W. (2023). PENGARUHDUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA UNTUK MENGURANGI TINGKAT STRES PADA MAHASISWA PSIKOLOGI YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI DIUNIRA MALANG. Open
Journal Systems, 17(11), 2613-2618.
Rahmadani, A., Nurfadilah, S. R., Rahmadina, F. S., & Ramadanti, R. I. (2022). E-peer support: dukungan psikososial teman sebaya bagi remaja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 247 Jakarta. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia p-ISSN, 2655, 6227.
Wardani, I. Y., & Panjaitan, R. U. (2021). Dukungan sosial teman sebaya dan masalah kesehatan jiwa pada remaja. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 4(1), 175-184.
Widyaningsih, A. S. D., & Wijayanti, D. Y. (2015). HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN AKTUALISASI DIRI MAHASISWA JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
DIPONEGORO. IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices), 2(2), 91-97.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *