Firmansyah Gilang M (Universitas Brawijaya)

Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang melimpah. Kondisi geografis dan iklim tropis menjadikannya negara agraris dengan potensi besar di sektor pertanian. Sektor pertanian memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, menyediakan pangan, mata pencaharian, dan mendukung ketahanan pangan nasional. Komoditas pertanian seperti beras, jagung, kedelai, dan berbagai tanaman hortikultura sangat penting bagi rakyat Indonesia. Sektor pertanian berperan dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional. Menurut Padila, (2025) peningkatan produktivitas pertanian dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Namun, terlepas dari peran penting ini, banyak petani di Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Pendapatan petani seringkali tidak sebanding dengan biaya tenaga kerja dan produksi. Banyak petani kecil kesulitan mengakses lahan, modal, teknologi, dan pasar. Situasi ini menyoroti ketidaksetaraan di sektor pertanian yang tetap menjadi masalah serius di Indonesia. Berkaitan dengan prinsip kelima Pancasila, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” situasi ini menunjukkan bahwa nilai keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud di sektor pertanian. Bentuk- bentuk ketimpang pertanian Indonesia penting untuk dianalisis. Hal ini dikarenakan untuk mengetahui sejauh mana kondisi tersebut mencerminkan atau menyimpang dari nilai-nilai keadilan sosial yang diabadikan dalam Pancasila.
Ketidaksetaraan di sektor pertanian di Indonesia masih merupakan masalah yang kompleks. Salah satu bentuk ketidaksetaraan yang paling terlihat adalah kepemilikan lahan yang tidak merata. Menurut Sulistyawati et al. (2025) sebagian besar petani kecil hanya memiliki lahan yang kecil dan beberapa bahkan tidak memiliki lahan sama sekali sehingga mereka terpaksa bekerja sebagai buruh tani. Di sisi lain, perusahaan besar atau kelompok tertentu mengendalikan lahan yang luas untuk keperluan industri dan investasi. Situasi ini menyebabkan distribusi sumber daya pertanian yang tidak merata dan memperlebar kesenjangan sosial di masyarakat pedesaan.
Selain ketidaksetaraan lahan, kesenjangan pendapatan di antara petani juga merupakan masalah serius. Fluktuasi harga produk pertanian seringkali mengakibatkan kerugian bagi petani, terutama selama panen melimpah. Sementara itu, biaya produksi, seperti pupuk, benih, dan input lainnya terus meningkat. Menurut Hidayatullah (2025), struktur pasar yang tidak menguntungkan bagi petani membuat mereka semakin rentan dalam menentukan harga jual. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh petani seringkali tidak sebanding dengan kerja keras dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.
Ketidaksetaraan juga terlihat dalam akses terhadap teknologi dan sumber daya pertanian. Petani dengan modal besar memiliki akses yang lebih mudah ke peralatan pertanian modern, benih unggul, dan informasi pasar. Sebaliknya, banyak petani kecil masih bergantung pada metode tradisional karena keterbatasan modal dan kurangnya pelatihan. Menurut untuk meningkatkan produktivitas petani, diperlukan modal, pengalaman, dan pendidikan yang memadai untuk mencapai produktivitas optimal.
Selain itu, pembangunan infrastruktur pertanian yang tidak merata juga berkontribusi pada ketidaksetaraan di sektor pertanian. Di beberapa daerah, petani masih kesulitan mengakses irigasi, jalan distribusi, dan fasilitas penyimpanan yang memadai. Hal ini mengakibatkan tanaman lebih mudah rusak dan biaya distribusi lebih tinggi. Akibatnya, petani di daerah terpencil seringkali memperoleh keuntungan lebih rendah daripada petani di daerah dengan fasilitas yang lebih memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan petani belum sepenuhnya ditangani secara merata.
Masalah lain yang dihadapi petani adalah rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Banyak anak muda memilih untuk bekerja di sektor industri atau perkotaan karena mereka menganggap pertanian kurang menjanjikan secara ekonomi. Jika situasi ini berlanjut, sektor pertanian dapat menghadapi kekurangan tenaga kerja produktif di masa depan. Namun, regenerasi petani sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Menurut Wardani, (2024) dengan kemajuan teknologi, sektor pertanian dapat menjadi lebih menarik bagi generasi muda. Strategi untuk meningkatkan minat kaum muda di sektor pertanian meliputi peningkatan produktivitas dan profitabilitas, penciptaan lapangan kerja, dan penyediaan lingkungan kerja yang nyaman.
Berbagai Ketidaksetaraan ini, menjadi tantangan utama dalam mencapai kesejahteraan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keadilan sosial yang diabadikan dalam Pancasila belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan masyarakat petani. Menurut Candra et al. (2025), nilai keadilan sosial seharusnya memberikan kesempatan yang sama bagi semua anggota masyarakat untuk mencapai kemakmuran, tanpa memandang kelas sosial. Hal ini dikarenakan petani memerankan peran penting dalam menjaga kestabilan pasokan panagan nasional.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya konkret dari pemerintah dan masyarakat. Reformasi agraria diperlukan untuk memastikan distribusi lahan yang lebih merata. Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan akses petani terhadap modal, teknologi, pelatihan, dan pasar untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka. Menurut Suwali (2025), penguatan lembaga pertanian, seperti koperasi tani juga sangat penting untuk memperkuat posisi petani dalam sistem pemasaran pertanian. Dengan kebijakan yang menguntungkan petani kecil, diharapkan kesenjangan di sektor pertanian dapat dikurangi, sehingga terwujud nilai “Keadilan Sosial untuk Seluruh Indonesia”.
DAFTAR PUSTAKA
Candra, R., Fahira, W., Hardi Alim, H., Pahlevi, R., Anugrah, N., Ramadhan, A., & Fadila Nawawi, J. (2025). Peran Pancasila Dalam Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jurnal Governance and Politics (Jpg), 5(1), 35–43.
Hidayatullah, R. (2025). Strategi Bertahan Hidup Petani Dalam Menghadapi Fluktuasi Harga Komoditas. Jurnal Economina, 4(1), 35–42.
Padila, C. (2025). Peran Sektor Pertanian dalam Mendukung Ketahanan Ekonomi di Era Globalisasi. Jurnal Ilmu Ekonomi, 01(1), 15–21.
Sheyoputri, A.Ch.A. (2025). Pengembangan Agribisnis Nanas Berkelanjutan. Qianzy Sains Indonesia.
Suwali. (2025). Peran Kelembagaan Petani Dalam Meningkatkan Daya Saingan Rantai Pasok Beras Di Era Digitalisasi Pertanian .Jurnal Kubis, 05(01), 122–138.
Wardani, G.T. (2024). Potensi Gen Z dalam Pengembangan Teknologi Berbasis Sistem Pertanian Presisi Guna Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Indonesia. Journal of Agricultural and Plantation Studies, 1(2), 22-23
Wirayuda, I. D. G. A., & Arka, S. (2024). Pengaruh modal, pengalaman bertani dan pendidikan terhadap produktivitas petani padi di Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 7(3), 10463–10473.