MEMAKNAI BALAP KARUNG DALAM PERSPEKTIF PANCASILA

Razan Muhammad Ihsan (Universitas Brawijaya)

Pendahuluan
Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia selalu merayakan Hari Kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang meriah. Salah satu perlombaan yang hampir selalu ada adalah balap karung. Permainan tradisional ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat karena sederhana, murah, dan dapat diikuti oleh siapa saja. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat ikut berpartisipasi tanpa memandang status sosial maupun latar belakang mereka. Walaupun terlihat hanya sebagai hiburan, sebenarnya balap karung memiliki makna yang lebih dalam. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai Pancasila, terutama sila ketiga tentang Persatuan Indonesia dan sila keempat mengenai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Di tengah perkembangan teknologi dan hiburan modern, permainan tradisional mulai mengalami penurunan minat, terutama di wilayah perkotaan. Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan karena mengandung nilai pendidikan karakter, kerja sama, dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, balap karung tidak hanya dapat dipandang sebagai permainan biasa, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat

Isi
Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus selalu identik dengan berbagai perlombaan rakyat. Salah satu perlombaan yang paling dikenal oleh masyarakat adalah balap karung. Permainan tradisional ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia karena dapat diikuti oleh semua kalangan tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial. Selain menghadirkan hiburan, balap karung juga memiliki nilai sosial yang kuat dalam membangun kebersamaan antarwarga.
Di tengah perkembangan teknologi dan hiburan modern, permainan tradisional mulai mengalami penurunan minat, terutama di wilayah perkotaan. Padahal, tradisi seperti balap karung memiliki makna penting dalam memperkuat nilai persatuan dan gotong royong di masyarakat. Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan karena mengandung nilai pendidikan karakter, kerja sama, dan solidaritas sosial.
Melalui perspektif Pancasila, balap karung dapat dimaknai bukan hanya sebagai permainan hiburan, tetapi juga sebagai cerminan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. Nilai tersebut terutama terlihat pada sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, serta sila keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Ketika perlombaan balap karung berlangsung, masyarakat berkumpul untuk menonton maupun mengikuti perlombaan. Suasana kebersamaan terlihat sangat jelas karena seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama untuk menang. Tidak ada perbedaan status sosial, pekerjaan, ataupun usia yang menjadi penghalang untuk ikut berpartisipasi. Semua peserta menggunakan perlengkapan yang sama dan berusaha mencapai garis akhir dengan kemampuan masing-masing.
Kondisi tersebut mencerminkan nilai sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Persatuan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan formal kenegaraan, tetapi juga dapat tumbuh dari aktivitas sederhana yang melibatkan masyarakat secara langsung. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Negeri Yogyakarta mengenai permainan tradisional, kegiatan permainan rakyat mampu meningkatkan interaksi sosial dan mempererat hubungan antaranggota masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa permainan tradisional seperti balap karung masih relevan sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial.
Selain mencerminkan persatuan, balap karung juga menunjukkan penerapan sila keempat Pancasila. Perlombaan ini biasanya diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat setempat. Warga bersama-sama menentukan aturan permainan, membentuk panitia, mengumpulkan dana, hingga menyiapkan hadiah. Semua keputusan dilakukan melalui musyawarah demi mencapai kesepakatan bersama.
Nilai musyawarah dan gotong royong tersebut menjadi bukti bahwa kehidupan demokratis sebenarnya dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Menurut Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), budaya gotong royong dan partisipasi masyarakat merupakan bentuk nyata pengamalan nilai Pancasila dalam kehidupan sosial. Dari kegiatan sederhana seperti balap karung, masyarakat belajar menghargai pendapat orang lain, bekerja sama, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Namun, keberadaan permainan tradisional saat ini mulai menghadapi tantangan. Banyak masyarakat, terutama generasi muda di perkotaan, lebih tertarik pada hiburan digital dibandingkan kegiatan tradisional. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, penggunaan internet di kalangan remaja Indonesia terus meningkat dan sebagian besar waktu luang digunakan untuk media sosial maupun permainan digital. Kondisi tersebut menyebabkan permainan tradisional mulai jarang dimainkan.
Jika tradisi seperti balap karung semakin ditinggalkan, masyarakat dapat kehilangan salah satu media untuk mempererat hubungan sosial secara langsung. Oleh karena itu, pelestarian permainan tradisional perlu terus dilakukan, baik melalui kegiatan sekolah, lomba perayaan kemerdekaan, maupun program budaya masyarakat

Penutup
Balap karung bukan hanya sekadar permainan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Di balik kesederhanaannya, permainan ini mengandung nilai-nilai penting yang sejalan dengan Pancasila, terutama nilai persatuan, musyawarah, gotong royong, dan kebersamaan. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial antarwarga di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. Oleh karena itu, balap karung dan permainan tradisional lainnya perlu terus dijaga dan dilestarikan. Selain sebagai bagian dari budaya bangsa, permainan tersebut juga menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui aktivitas sederhana yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Daftar Rujukan

  1. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. 2023. Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat. Jakarta: BPIP.
  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2023. Pelestarian Permainan Tradisional sebagai Warisan Budaya Indonesia. Jakarta.
  3. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). 2024. Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024.
  4. Universitas Negeri Yogyakarta. 2022. Penelitian tentang Permainan Tradisional dan Interaksi Sosial Masyarakat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *