Zakiah Nur Azzahra (Universitas Negeri Malang)
Kita hafal detail kehidupan pribadi para selebriti hingga ke akar-akarnya, bahkan nama-nama selingkuhan artis, tapi terdiam ketika ditanya soal krisis iklim atau konflik global yang tengah mengguncang dunia. Kita sibuk menghakimi hidup orang lain dikolom komentar, tapi malas mengasah pikiran dan kepedulian kita sendiri. Lalu dimana letak nilai pancasila kemanusiaan, persatuan dan keadilan ditengah itu semua?. Diera digital yang serba cepat ini arus informasi mengalir tanpa henti, namun sayangnya bukan kebijaksanaan yang ikut mengalir, melainkan kebisingan. Generasi muda, khususnya Gen Z, tumbuh ditengah banjir konten yang lebih banyak menghibur daripada mendidik. Disinilah seharusnya Pancasila hadir, bukan hanya sebagai hafalan lima sila yang membosankan, melainkn sebagai kompas yang mengarahkan kita di tengah derasnya arus digital. Pancasila tidak kehilangan relevansinya diera digital, yang hilang hanyalah cara kita menyampaikannya. Ketika nilai-nilai luhur bangsa dikemas dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh Gen Z, Pancasila bisa kembali hidup bukan sekedar di buku melainkan di beranda media. Jauhnya Pancasila dari kehidupan Gen Z, bukan terjadi begitu saja. Sistem pendidikan yang selama ini mengajarkan Pancasila sebatas hafalan di atas kertas, bukan sebagai nilai yang dihidupi, membuat generasi muda merasa asing dengan ideologi bangsanya sendiri. Namun dibalik itu semua, ada yang sering luput dari perhatian. Gen Z sebenarnya tidak kehilangan nilai-nilai pancasila, mereka hanya tidak menyadarinya. Generasi ini aktif mnyuarakan isu kesetaraan, hak digital, hingga transparansi pemerintah lewat media sosial. Lewat Twitter, Instagram, hingga TikTok, mereka berani mengkritik kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, menyebarkan informasi yang selama ini dibungkam, dan menuntut keadilan dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Seperti yang terjadi saat gerakan ReformasiDikorupsi viral di Twitter, ribuan Gen Z turun ke jalan sekaligus memenuhi beranda media sosial mereka dengan tuntutan keadilan. Atau ketika isu pengesahan RUU yang dianggap merugikan rakyat ramai diperbincangkan, Gen Z lah yang pertama kali menyebarkan infografis, membuat formulir dukungan online, dan menggalang suara publik, itu semua bukan sekadar tren atau hanya sebuah konten tapi, itu adalah wujud nyata dari nilai-nilai Pancasila yang hidup, hanya saja dikemas dalam bahasa zaman mereka.
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Jawabannya ada di dua tangan yakni pendidik dan Gen Z itu sendiri. Peran pendidik perlu dikembalikan kepada hakikatnya, yakni sebagai teladan hidup, bukan sekadar penyampai materi. Namun pendidik di sini bukan hanya guru di sekolah. Orang tua dan orang-orang yang lebih tua di sekitar Gen Z pun memegang peran yang sama besarnya. Nilai-nilai Pancasila tidak akan pernah cukup jika hanya diajarkan di dalam kelas, ia perlu diterapkan di rumah, di meja makan, dalam percakapan sehari-hari antara orang tua dan anak. Ketika orang tua mencontohkan sikap gotong royong, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan nyata, secara tidak langsung mereka sedang menanamkan Pancasila jauh lebih dalam daripada hafalan manapun. Sebab nilai bukan sesuatu yang diajarkan dengan kata-kata, melainkan sesuatu yang ditularkan melalui teladan.Yang kedua yakni guru. Guru yang hanya mengajar tanpa meneladankan tidak akan pernah bisa menanamkan nilai, karena nilai tidak bisa dihafal, nilai hanya bisa dihidupi. Oleh karena itu, pengembangan profesionalisme guru juga harus mencakup pembinaan integritas dan kepribadian,agar mereka mampu menanamkan adab serta nilai-nilai kemanusiaan secara efektif kepada peserta didik. Di sisi lain, sistem pendidikan kita perlu mengintegrasikan nilai-nilai karakter, spiritualitas, dan etika sosial ke dalam kurikulum, tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik dan keterampilan teknis semata. Karena lulusan yang sesungguhnya berharga bukan hanya yang cerdas secara intelektual, tetapi yang seimbang antara kecerdasan pikiran dan kecerdasan moral. Dan bagi Gen Z sendiri. Mulailah dengan kesadaran kecil bahwa kepedulian yang kalian tunjukkan setiap hari di media sosial itu adalah Pancasila. Kalian tidak perlu menunggu sistem berubah untuk mulai menghidupi nilai-nilai itu.
kesimpulannya yakni Pancasila tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupan Gen Z. Ia hanya berganti wajah, dari hafalan di buku teks menjadi suara di beranda media sosial, dari upacara bendera menjadi gerakan digital yang menuntut keadilan. Yang selama ini kita salah artikan sebagai ketidakpedulian, ternyata adalah kepedulian yang berbicara dalam bahasa yang berbeda. Maka tugas kita bersama bukan memaksa Gen Z kembali ke cara lama, melainkan membuka mata bahwa Pancasila sudah hidup di tangan mereka tinggal bagaimana pendidik, orang tua, dan sistem di sekitar mereka ikut menghidupinya. Karena pada akhirnya, Pancasila bukan sekadar warisan yang harus dijaga, melainkan nilai yang harus terus dihidupi oleh setiap generasi dengan caranya sendiri.
Daftar Rujukan
Hasanudin, R. (2019). Memahami peran Gen Z dalam aksi #ReformasiDikorupsi di DPR.
Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/memahami-peran-gen-z-dalam-aksi-reformasidikorupsi-di-dpr-eiNt
Ariani, F. (2019). Orang tua sebagai penanam nilai Pancasila untuk anak usia dini di era digital. Journal of Early Childhood Education (JECE), 1(2), 60–68.
https://doi.org/10.15408/jece.v1i2.12515