Oleh: EINDHOVEN TRISTAN CHENTRY (Universitas Brawijaya)

Akar Budaya dalam Gema Suara Tradisi
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan budaya yang sangat melimpah. Di dalam gugusan pulau-pulaunya, tradisi lisan tumbuh subur menjadi salah satu warisan paling berharga di tengah masyarakat. Sebagai warisan budaya takbenda, tradisi lisan seperti dongeng, cerita rakyat, pantun, gurindam, hingga hikayat bukan sekadar berfungsi sebagai sarana hiburan pengisi waktu luang. Lebih jauh dari itu, tradisi ini adalah wadah utama untuk mewariskan nilai-nilai luhur, budi pekerti, dan pesan moral secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.Narasi-narasi lisan tersebut mengandung nilai kearifan lokal yang sangat kaya dan selaras dengan fondasi ideologi kita, yaitu Pancasila. Di dalam bait-bait pantun atau kisah kepahlawanan lokal, kita dapat dengan mudah menemukan cerminan nilai ketuhanan, keadilan sosial, kemanusiaan, hingga semangat gotong-royong yang kuat. Sebagai jati diri bangsa, Pancasila memberikan kerangka ideologis yang memastikan keberagaman budaya lisan tersebut tidak mencerai-beraikan kita. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut justru mengikat keberagaman budaya dalam satu simpul ikatan nasional yang kokoh dan harmonis.
Tantangan Nyata di Era Modern
Namun, kenyataan hari ini melemparkan tantangan yang tidak mudah. Di era disrupsi digital saat ini, keberadaan tradisi lisan kian memudar dan menghadapi ancaman kepunahan yang kompleks. Dominasi teknologi digital dan banjirnya arus informasi global cenderung menggeser perhatian generasi muda dari ruang-ruang komunal ke ruang maya. Mereka kini lebih akrab dengan algoritma media sosial dan konten digital global yang sering kali bersifat individualistik, instan, singkat, serta terlepas dari akar sejarah budaya lokal.Fenomena bergesernya atensi ini berisiko memicu krisis identitas yang serius bagi generasi penerus. Jika nilai-nilai luhur dalam tradisi lisan tidak lagi dianggap relevan atau menarik di mata masyarakat modern, kita akan kehilangan kompas moral bangsa. Oleh karena itu, kita tidak bisa lagi memakai cara lama dalam merawat kebudayaan. Diperlukan sebuah strategi adaptif yang taktis untuk memastikan tradisi lisan tetap hidup, relevan, dan berfungsi sebagai salah satu pilar utama penopang nilai Pancasila di era modern.Menghadapi situasi ini, tradisi lisan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai sekadar dongeng pengantar tidur atau sejarah masa lalu yang ketinggalan zaman. Warisan berharga ini harus mampu bertransformasi dan beradaptasi dengan lanskap media baru. Kita harus mampu memperkuat narasi Pancasila melalui media yang digemari anak muda, menjadikannya sebagai penyaring alami terhadap gempuran pengaruh negatif di dunia maya. Dengan adaptasi yang tepat, tradisi lisan dapat terus bertahan dan menjelma menjadi modal sosial yang dinamis dalam menjaga jati diri bangsa di tengah kencangnya arus globalisasi.
Melestarikan Tradisi Melalui Algoritma
Tantangan terbesar bagi eksistensi tradisi lisan di era digital sejatinya terletak pada perubahan media komunikasi masyarakat. Generasi Z dan Generasi Alfa tidak lagi duduk berkumpul di halaman rumah atau di bawah kolong rumah panggung untuk mendengarkan petuah tetua adat maupun dongeng nenek moyang. Hari ini, tatapan mereka terpaku pada layar gawai selama berjam-jam setiap harinya. Kenyataan ini harus disikapi secara bijak. Strategi bertahan hidup bagi tradisi lisan bukanlah dengan memusuhi kemajuan teknologi, melainkan merangkulnya melalui jalan digitalisasi.Pantun, cerita rakyat, dan hikayat lama harus dikemas ulang agar bertransformasi menjadi konten yang “ramah algoritma”. Kreativitas menjadi kunci utama di bagian ini. Berinovasi dengan mengubah narasi tradisi lisan ke dalam bentuk podcast yang interaktif, video animasi pendek yang estetik, atau komik digital di platform webtoon adalah langkah konkret yang sangat strategis. Cara ini terbukti ampuh membawa kembali nilai-nilai kearifan lokal ke dalam ruang digital yang setiap detiknya dipenuhi oleh aktivitas anak muda.
Penawar Polarisasi di Ruang Siber
Di tengah banjirnya informasi digital yang sering kali membawa virus individualisme, berita bohong (hoax), hingga polarisasi sosial, tradisi lisan hadir sebagai obat penawar yang mujarab. Nilai gotong-royong dalam cerita rakyat seperti kisah pembangunan candi atau keadilan sosial dalam hikayat Nusantara merupakan cerminan hidup dari butir-butir Pancasila. Ketika narasi lokal sarat makna ini dihidupkan kembali di dunia maya, mereka berfungsi efektif sebagai filter budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian luhur bangsa.Tradisi lisan yang telah terdigitalisasi ini akan menjadi tolak ukur moral yang menjaga netizen di Indonesia tetap memegang teguh etika. Konten-konten berbasis tradisi ini secara tidak langsung mendidik masyarakat siber untuk saling bertoleransi, menghargai perbedaan, dan tetap beradab di ruang digital. Ruang publik digital yang awalnya penuh dengan ujaran kebencian dapat diredam dengan pesan-pesan damai dari filosofi lokal asli Indonesia.Namun, melestarikan tradisi lisan di era digital tidak bisa hanya bertumpu pada kesadaran individu saja. Sebuah ekosistem digital yang sehat dan mendukung sangat dibutuhkan. Perlu ada sinergi kuat mulai dari kebijakan pemerintah yang menyediakan panggung serta insentif bagi kreator konten berbasis budaya, hingga peran aktif komunitas lokal dalam mendokumentasikan aset budaya mereka. Jika dunia maya kita terus disuguhi oleh konten lokal berkualitas tinggi yang disesuaikan dengan tren modern, maka kekhawatiran akan hilangnya jati diri bangsa dapat kita tepis jauh-jauh. Budaya lisan kita tidak akan pernah mati, ia hanya sedang berganti pakaian agar sesuai dengan zamannya.
Menyelamatkan Masa Depan Identitas Bangsa
Sebagai kesimpulan, tradisi lisan adalah potret hidup dan perwujudan nyata dari nilai Pancasila yang membentuk fondasi jati diri bangsa Indonesia. Menghadapi arus transformasi digital yang begitu deras, kita tidak boleh bersikap pesimis apalagi pasrah membiarkan warisan ini punah tergilas zaman.Melalui langkah adaptasi yang kreatif, kolaboratif, serta pemanfaatan media digital secara optimal, tradisi lisan dapat berubah menjadi modal sosial yang kuat, adaptif, dan dinamis. Pada akhirnya, menjaga keberlanjutan tradisi lisan di era digital bukan sekadar upaya romantis untuk mengenang masa lalu. Ini adalah sebuah strategi mutlak dan investasi kebudayaan demi menyelamatkan masa depan identitas bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S., Sarwoprasodjo, S., & Hapsari, D. R. 2023. “Participatory Communication to Strengthen Farmers’ Empowerment and Adaptation in Facing the Impacts of Climate Change.” Habitat, 34(3), 245–255.
Adetama, D. S., Fauzi, A., Juanda, B., & Hakim, D. B. 2023. “Evaluasi Pembangunan Berkelanjutan dengan Rendah Karbon pada Sektor Pertanian Padi.” TATALOKA, 25(1), 50–69.
Halimah, L., & Nurul, S. F. 2020. “Refleksi terhadap Kewarganegaraan Ekologis dan Tanggung Jawab Warga Negara melalui Program Ecovillage.” Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 17(2), 142–152.
Nosratabadi, S., Mosavi, A., Shamshirband, S., Zavadskas, E. K., Rakotonirainy, A., & Chau, K. W. 2020. “Sustainable Business Models: A Review.” Sustainability, 12(4), 1663.
Rondhi, M., Khasan, A. F., Mori, Y., & Kondo, T. 2018. “Assessing the Role of the Perceived Impact of Climate Change on National Adaptation Policy: The Case of Rice Farming in Indonesia.” Land Use Policy, 81, 113–123.
Saptutyningsih, E., Diswandi, D., & Jaung, W. 2020. “Does Social Capital Matter in Climate Change Adaptation? A Lesson from Agricultural Sector in Yogyakarta, Indonesia.” Land Use Policy, 95, 104189.
Saptutyningsih, E., & Fitria, D. N. 2022. “Is Social Capital Important in Coping with Climate Change? A Case of Agriculture Sector in Gunungkidul, Indonesia.” E3S Web of Conferences, 361, 03002.