Najmi Musyaffa, Jessie Maureen Ayuningtyas, Muhammad Fardhan Fattawi Yahya & Zahwa Fairuz Hafizha
(Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Brawijaya)
Pendahuluan
Secara etimologis, istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata: ontos yang berarti ada atau keberadaaan dan logos yang berarti studi atau ilmu. Sedangkan menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak.
Objek material dalam penelitian ini adalah sistem pembelajaran online dan dampaknya terhadap produktivitas belajar oleh mahasiswa ilmu pemerintahan angkatan 2025. Secara ontologis produktivitas belajar mahasiswa ini merujuk pada realitas yang diamati melalui indikator seperti pemahaman dalam materi, ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas, kemampuan belajar mandiri, dan efektivitas dalam memanajemen waktu (Firman & Rahayu, 2020). Indikator tersebut dapat menjadikan produktivitas belajar sebagai entitas empiris yang dapat diukur dan dievaluasi secara objektif.
Penelitian ini menggunakan Teori Produktivitas Belajar oleh Robert Gagne sebagai kerangka formal untuk menganalisis fenomena pembelajaran secara daring. Teori Gagne dipilih karena menyediakan kerangka yang komprehensif dalam mengukur produktivitas belajar melalui sembilan peristiwa instruksional yang relevan dengan konteks pembelajaran online (Gagne, 1985). Teori ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi berbagai komponen penting yang memengaruhi efektivitas proses belajar, mulai dari memperhatikan materi hingga memberikan informasi tujuan serta meningkatkan kemampuan mengingat, yang semuanya dapat diintegrasikan dalam lingkungan digital.
Objek formal penelitian ini adalah hubungan kausal dan mekanisme pengaruh antara sistem pembelajaran online terhadap produktivitas belajar mahasiswa. Objek formal ini fokus pada bagaimana fenomena produktivitas belajar dijelaskan sebagai sebuah struktur hubungan yang muncul dari interaksi antara fitur pembelajaran online (seperti fleksibilitas, aksesibilitas, metode penyampaian materi, dan sistem evaluasi) dengan karakteristik mahasiswa (seperti motivasi, kemampuan adaptasi, kemandirian belajar, dan manajemen waktu). Dengan mengeksplorasi objek material dan objek formal secara jelas, penelitian lebih mengakui yang terdapat, sekaligus bagaimana dan mengapa sistem pembelajaran online dapat meningkatkan atau menurunkan produktivitas belajar mahasiswa. Dengan memahami objek material dan objek formal secara jelas, penelitian dapat lebih mengidentifikasi sebab-akibat dan faktor-faktor kunci yang mempengaruhi hasil belajar. Hal ini memungkinkan perumusan rekomendasi yang lebih tepat guna dalam pengembangan sistem pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa di era digital.
Pemahaman tentang objek material dan objek formal membantu penelitian dalam mengidentifikasi hubungan sebab-akibat serta faktor-faktor utama yang memengaruhi proses belajar. Dengan demikian, dapat dibuat rekomendasi yang lebih tepat dalam merancang sistem pembelajaran yang efektif serta sesuai dengan kebutuhan mahasiswa di tengah perkembangan era digital. Ontologi dalam penelitian ini sangat penting karena membantu memahami apa saja yang sebenernya ada dalam proses pembelajaran online dan bagaimana hal itu berhubungan langsung dengan objek penelitian kami yaitu Mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2025. Dengan memahami aspek penting seperti mahasiswa, teknologi, dan interaksi yang terjadi, penelitian dapat menjelaskan sebab-akibat dan faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar. Ini membuat penelitian lebih akurat dan hasilnya dapat digunakan untuk membangun sistem pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa di era digital.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang kami pilih pada mini riset ini adalah metode penelitian kuantitatif, metode ini dipilih karena bertujuan untuk mengukur dan menganalisis secara numerik pengaruh sistem pembelajaran online terhadap produktivitas mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2025. Pendekatan kuantitatif memungkinkan kami sebagai peneliti untuk mengumpulkan data yang bersifat statistik dan objektif melalui instrumen kuesioner yang kami buat dan kami sebarkan kepada responden yang representatif dari populasi mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2025.
Penggunaan metode ini memudahkan dalam pengolahan data secara statistik untuk mengetahui hubungan, pengaruh, dan tingkat signifikan antara sistem pembelajaran online dengan produktivitas mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2025. Dengan metode ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran empiris yang kuat mengenai dampak penerapan sistem pembelajaran online terhadap kinerja akademik dan produktivitas mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2025. Selain itu dengan metode pengisian kuisioner, kami juga mencari studi literatur yang membahas tentang penelitian kami. Kami menelaah, mengumpulkan, dan menganalisis sumber sumber tertulis yang relevan dan terpercaya seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan riset terdahulu yang berkaitan dengan topik penelitian kami.
Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik non-probabilitas jenis purposive sampling, yang berfokus pada pemilihan peserta yang secara aktif menggunakan sistem pembelajaran daring, kami berhasil mengumpulkan data dari 32 responden yang telah mengisi kuesioner untuk analisis statistik tersebut. Pengumpulan data primer, kuesioner akan dibagikan kepada responden dengan instrumen penelitian terdiri dari 8 pertanyaan yaitu 6 pertanyaan tertutup yang menggunakan Skala Likert dan 2 pertanyaan terbuka untuk mengambil saran dan kendala para responden. Data yang sudah dikumpulkan kemudian akan dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana untuk menguji hipotesis mengenai besaran pengaruh dan signifikansi yang ada.
Pembahasan
Dalam menganalisis penelitian ini, peneliti menggunakan Teori Produktivitas Belajar dari Robert Gagne yang menekankan produktivitas belajar dapat diukur melalui efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran. Menurut Gagne, produktivitas belajar mencakup beberapa komponen penting yaitu pemahaman materi, ketepatan waktu menyelesaikan tugas, kemampuan belajar mandiri, dan efektivitas manajemen waktu. Komponen-komponen ini sesuai dengan indikator yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur produktivitas mahasiswa dalam sistem pembelajaran online. Gagne juga mengidentifikasi sembilan peristiwa instruksional yang mendukung pembelajaran efektif, antara lain: menarik perhatian, menginformasikan tujuan pembelajaran, merangsang ingatan akan pengetahuan prasyarat, menyajikan stimulus, memberikan bimbingan, memperoleh kinerja, memberikan umpan balik, menilai kinerja, dan meningkatkan retensi dan transfer. Dalam konteks pembelajaran online, peristiwa-peristiwa instruksional ini dapat tercapai melalui stabilitas koneksi internet, fleksibilitas waktu belajar, kedisiplinan mahasiswa, kemampuan konsentrasi, kompetensi dosen dalam mengoperasikan platform digital, serta kejelasan penjelasan materi yang disampaikan.
Koneksi Internet dalam Pembelajaran Online
Berdasarkan pertanyaan pertama mengenai “Saya memiliki koneksi internet yang stabil untuk mengikuti pembelajaran online”, terlihat bahwa sebagian besar responden memberikan penilaian positif. Sebanyak 58,3% responden memilih kategori 4 (setuju), dan 33,3% lainnya memilih kategori 5 (sangat setuju). Sementara itu, hanya 8,3% responden yang berada pada kategori 3, dan tidak ada responden yang memberikan nilai 1 maupun 2. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa merasa memiliki koneksi internet yang cukup stabil selama proses pembelajaran online. Stabilnya jaringan internet memberikan indikasi bahwa hambatan teknis tidak menjadi masalah utama bagi sebagian besar responden. Hal ini juga menegaskan bahwa perangkat dan fasilitas digital yang dimiliki mahasiswa sudah cukup mendukung keberlangsungan kegiatan pembelajaran daring, sesuai dengan indikator kecepatan internet memadai dan minimnya buffering.
Fleksibilitas dan Manajemen Waktu Belajar
Terkait fleksibilitas waktu, sebagian besar responden memberikan penilaian yang sangat positif terhadap pembelajaran online karena memberikan fleksibilitas. Hal ini terlihat dari distribusi jawaban yang cenderung lebih banyak berada pada kategori setuju dan sangat setuju. Hanya sebagian kecil responden yang berada pada kategori netral, sedangkan hanya sedikit yang tidak setuju. Temuan ini selaras dengan prinsip instruksional Gagne mengenai pengaturan konteks pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa belajar sesuai dengan ritme dan kondisi masing-masing. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan pembelajaran online yang tidak dimiliki oleh pembelajaran konvensional. Mahasiswa dapat menyesuaikan waktu belajar dengan berbagai aktivitas pribadi, sehingga mampu menciptakan manajemen waktu yang lebih mandiri.
Namun, muncul paradoks pada aspek kedisiplinan. Sebagian besar responden justru tidak setuju bahwa pembelajaran online meningkatkan kedisiplinan dalam mengatur waktu. Dari distribusi jawaban terlihat adanya penekanan pada jawaban negatif. Hal ini menunjukkan bahwa fleksibilitas tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan self-regulation. Tidak adanya pengawasan langsung dan lingkungan rumah yang kurang mendukung bisa menjadi faktor yang memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam mengikuti jadwal, mengatur diri, serta menyelesaikan tugas tepat waktu. Temuan ini sejalan dengan penelitian Firman dan Rahayu (2020) yang menyatakan bahwa pembelajaran daring membutuhkan kemandirian tinggi dari mahasiswa. Tanpa adanya struktur eksternal yang ketat, mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengelola waktu secara efektif.
Konsentrasi dan Kemampuan Fokus Mahasiswa dalam Pembelajaran Online
Temuan yang paling memprihatinkan muncul pada aspek konsentrasi. Mayoritas responden memberikan penilaian netral terhadap kemampuan mereka untuk berkonsentrasi saat belajar secara online, sementara sebagian kecil menyatakan tidak setuju. Hanya sedikit responden yang merasa sangat setuju bahwa mereka dapat berkonsentrasi dengan baik, dan tidak ada responden yang memilih kategori setuju. Pola jawaban yang cenderung netral dan negatif ini menunjukkan bahwa pembelajaran online tidak mampu mendukung peristiwa instruksional Gagne terkait dengan “mempertahankan perhatian” (sustaining attention).
Kurangnya kemampuan berkonsentrasi menjadi hambatan besar terhadap produktivitas belajar. Dari analisis pertanyaan terbuka, kendala utama yang memengaruhi kemampuan konsentrasi meliputi: lingkungan rumah yang bising dan tidak nyaman, gangguan dari anggota keluarga, mudah teralihkan oleh media sosial dan perangkat elektronik, serta metode pembelajaran yang monoton yang membuat mahasiswa cepat merasa bosan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa tingkat fokus yang dimiliki mahasiswa masih kurang memadai untuk mendukung jalannya pembelajaran daring secara efektif. Kurangnya konsentrasi ini memperlambat proses penerimaan informasi, pengolahan data, serta pembentukan memori jangka panjang yang semua merupakan komponen penting dalam teori pembelajaran Gagne.
Kemampuan Dosen mengoperasikan Platform Pembelajaran
Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memberikan penilaian positif terhadap kemampuan dosen dalam mengoperasikan platform pembelajaran daring. Dosen dinilai mampu menguasai berbagai fitur seperti Zoom, Google Meet, dan LMS, serta bisa membagikan materi secara lancar dan mengelola diskusi online dengan baik. Kemampuan ini mencakup pengaturan ruang kelas virtual, pembagian tautan pertemuan, pengaktifan fitur presentasi layar, penggunaan ruang diskusi (breakout rooms), pengelolaan kehadiran, serta penguasaan berbagai fungsi teknis lainnya yang mendukung pembelajaran online. Hal ini menunjukkan bahwa prinsip instruksional Gagne tentang “menyajikan stimulus” dan “memberikan bimbingan” telah terpenuhi secara teknis.
Selain itu, kemampuan dosen dalam membagikan materi secara lancar juga mendapat penilaian positif. Kemampuan ini mencakup pengunggahan bahan ajar ke LMS, penayangan slide atau dokumen melalui screen sharing, serta pastikan bahwa materi yang dibagikan dapat diakses dan dipahami oleh mahasiswa tanpa hambatan teknis. Kelancaran dalam membagikan materi menunjukkan kesiapan dosen dalam menggunakan media digital secara profesional. Dosen juga dinilai mampu memfasilitasi interaksi akademik secara daring dengan baik, yang ditunjukkan dengan kemampuan mengarahkan percakapan, memberikan kesempatan berbicara kepada mahasiswa, memanfaatkan fitur chat atau forum diskusi, serta menjaga suasana kelas virtual tetap kondusif.
Kejelasan pada Penjelasan Dosen
Terkait dengan kejelasan penjelasan dosen selama pembelajaran online, hasil menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mampu memahami materi yang disampaikan, meskipun tingkat pemahaman mereka masih termasuk dalam kategori sedang hingga baik. Kejelasan ini dihasilkan dari penggunaan bahasa yang sederhana, intonasi suara yang jelas, serta kemampuan dosen dalam menyampaikan materi secara terstruktur tanpa menyebabkan kebingungan. Dosen dinilai berhasil menyajikan materi secara berurutan, tanpa mengandalkan istilah yang terlalu rumit atau ambigu.
Penyampaian materi secara sistematis juga menjadi salah satu faktor positif. Hal ini terlihat dari urutan penjelasan yang logis, meliputi bagian pengantar, inti materi, dan kesimpulan, serta penjelasan yang disertai contoh atau ilustrasi yang membantu pemahaman. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa untuk mengikuti materi tanpa kehilangan konteks. Dengan demikian, mahasiswa dinilai cukup mampu memahami alur penjelasan dosen, yang menunjukkan bahwa dosen berhasil menjaga kelancaran pembelajaran, menghubungkan topik secara jelas, dan menghindari penjelasan yang terlalu melompat.
Namun, meskipun kejelasan dalam penyampaian dinilai cukup baik, hal ini belum tentu mampu meningkatkan pemahaman yang lebih dalam terhadap materi. Beberapa mahasiswa masih merasa kesulitan memahami konsep abstrak atau materi yang memerlukan penjelasan lebih rinci. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan teknis dalam menggunakan platform pembelajaran online tidak secara otomatis menjamin keberhasilan metode pengajaran. Diperlukan peningkatan dalam berbagai aspek, seperti penggunaan variasi metode pengajaran, pemanfaatan multimedia yang lebih menarik, serta interaksi dua arah yang lebih intens, agar pembelajaran tidak hanya bersifat komunikasi satu arah.
Kendala saat Pembelajaran Online
Berdasarkan pertanyaan dalam kuesioner, yaitu “Apa kendala utama yang Anda rasakan selama mengikuti pembelajaran online?”, ada beberapa indikator yang mengidentifikasi hambatan mahasiswa saat belajar daring. Pertama, “Kendala teknis (internet, perangkat, listrik)”, yang meliputi segala masalah terkait teknologi, seperti koneksi internet yang tidak stabil, perangkat (laptop atau ponsel) yang rusak, aplikasi yang bermasalah, atau pemadaman listrik. Jika responden menyebutkan masalah seperti lag, putus koneksi, audio terputus-putus, atau perangkat yang panas/error, jawaban itu diklasifikasikan sebagai kendala teknis.
Kedua, “Kendala lingkungan (bising, tidak kondusif)”, yang merujuk pada hambatan dari kondisi tempat belajar yang kurang mendukung, seperti rumah yang ramai, suara bising, ruang belajar yang sempit, atau gangguan dari keluarga atau lingkungan sekitar. Responden yang mengatakan sulit fokus karena suasana rumah tidak nyaman akan termasuk dalam kategori ini.
Ketiga, “Kendala pemahaman materi”, yang digunakan ketika responden mengakui kesulitan memahami konten yang disampaikan secara online. Penyebabnya bisa penjelasan yang kurang jelas, materi yang terlalu cepat, atau kurangnya interaksi tatap muka. Jawaban seperti “sulit memahami” atau “materi abstrak tanpa contoh” masuk kategori ini.
Keempat, “Kendala komunikasi dengan dosen/teman”, yang menggambarkan hambatan dalam berinteraksi selama pembelajaran daring, seperti respons dosen yang lambat, kesulitan bertanya, kurangnya diskusi, atau masalah koordinasi dengan teman kelompok. Jika responden menyebut interaksi yang kurang efektif, itu termasuk kategori ini.
Terakhir, “Kendala motivasi dan manajemen waktu”, yang mencakup hambatan terkait semangat belajar dan kemampuan mengatur waktu. Contohnya adalah rasa malas, cepat bosan, sulit berkonsentrasi, menunda tugas, atau kesulitan menyeimbangkan jadwal kuliah dengan pekerjaan rumah. Jika responden menyebut kelelahan mental, burnout, atau kurang antusias, hal itu dikategorikan sebagai kendala motivasi.
Saran Peningkatan Kualitas Pembelajaran Online
Berdasarkan hasil analisis saran yang diberikan oleh mahasiswa, terdapat lima kategori utama rekomendasi yang muncul. Pertama, saran berkaitan dengan peningkatan kualitas pengajaran dosen. Saran ini mencakup beberapa aspek seperti peningkatan kejelasan penjelasan materi, penggunaan metode pengajaran yang lebih interaktif, pemberian contoh yang konkret, serta pengaturan tempo penyampaian materi yang lebih lambat dan lebih disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa dalam menyerap materi.
Kedua, saran yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dan platform pembelajaran. Saran ini meliputi rekomendasi terkait pemilihan atau pemanfaatan aplikasi pembelajaran. Misalnya, penggunaan platform yang lebih stabil, memaksimalkan fitur sistem manajemen pembelajaran (LMS), peningkatan kualitas audio dan video, atau penggantian aplikasi yang sering mengalami masalah. Saran ini menekankan pentingnya teknologi sebagai pendukung utama pembelajaran online yang perlu terus diperbaiki.
Ketiga, saran yang berkaitan dengan interaksi dalam kelas online. Saran ini berfokus pada peningkatan dinamika dan komunikasi di dalam kelas. Contohnya, rekomendasi agar diskusi dilakukan lebih sering, dosen lebih aktif merespons pertanyaan, adanya sesi tanya jawab tambahan, atau penggunaan fitur interaktif seperti polling dan breakout rooms. Saran jenis ini menegaskan pentingnya interaksi sebagai kunci efektivitas pembelajaran daring, yang hingga saat ini masih dianggap kurang optimal.
Keempat, saran yang berkaitan dengan akses materi dan fasilitas pendukung pembelajaran. Saran ini mencakup permintaan mengenai penyediaan materi yang lebih lengkap, akses yang lebih mudah, atau adanya fasilitas tambahan seperti rekaman kelas, modul, dan sumber belajar lainnya. Selain itu, saran ini juga mencakup kebutuhan mahasiswa terkait fasilitas pendukung seperti bantuan kuota internet atau perangkat pembelajaran yang lebih memadai.
Kelima, saran terkait manajemen waktu dan sistem akademik. Saran ini mencakup beberapa rekomendasi terkait penjadwalan perkuliahan, pengaturan jadwal tugas, durasi pertemuan daring, hingga kebijakan akademik yang perlu diperbaiki. Contohnya, harapan agar beban tugas tidak terlalu berat dan tidak menumpuk di waktu yang sama, adanya jeda antar pertemuan online yang lebih manusiawi, atau kalender akademik yang lebih fleksibel untuk bisa mengakomodasi kondisi mahasiswa.
Secara aksiologis, penelitian ini memiliki manfaat penting baik dalam aspek teori maupun praktis dalam konteks pengembangan sistem pembelajaran online. Aksiologi, yaitu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai dan manfaat ilmu pengetahuan, menjadi dasar bagi penelitian ini untuk menjawab pertanyaan seperti “Untuk apa pengetahuan ini digunakan?” dan “Siapa yang mendapatkan manfaat dari hasil penelitian ini?”
Dari segi nilai teoritis, penelitian ini memberikan tambahan pengetahuan dalam bidang pendidikan, terutama dalam hal pembelajaran daring. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi nyata terhadap Teori Produktivitas Belajar Robert Gagne dengan mengaitkannya dalam konteks pembelajaran online di perguruan tinggi Indonesia. Penelitian ini juga menjadi referensi bagi peneliti lain yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang dinamika pembelajaran daring, khususnya dalam konteks mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan.
Sementara itu, dari segi nilai praktis, penelitian ini memberikan manfaat langsung kepada berbagai pihak terkait. Pertama, bagi mahasiswa, penelitian ini mengungkapkan masalah nyata yang mereka hadapi dalam pembelajaran online, seperti sulit fokus, kurang disiplin, dan lingkungan belajar yang tidak mendukung. Dengan memahami hambatan tersebut secara sistematis, mahasiswa dapat mengembangkan strategi belajar yang lebih efektif dan cocok untuk pembelajaran daring.
Kedua, bagi dosen dan pengajar, hasil penelitian ini bisa menjadi bahan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran online. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun kemampuan teknis dosen dalam menggunakan platform digital sudah baik, tetap diperlukan peningkatan di bidang interaksi, variasi metode mengajar, dan pengelolaan waktu. Informasi ini bisa menjadi dasar bagi dosen dalam merancang strategi pengajaran yang lebih interaktif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa generasi digital.
Ketiga, bagi institusi pendidikan, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, penelitian ini memberikan masukan strategis untuk meningkatkan kebijakan akademik terkait pembelajaran daring. Saran-saran yang diberikan oleh mahasiswa, seperti penjadwalan yang lebih fleksibel, beban tugas yang seimbang, penyediaan fasilitas pendukung pembelajaran, serta peningkatan infrastruktur teknologi, dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan manajerial dan pengembangan sistem akademik yang lebih manusiawi dan efektif.
Keempat, dalam konteks yang lebih luas, penelitian ini memiliki nilai sosial karena berkontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, terutama di tengah era transformasi digital. Pembelajaran daring kini menjadi bagian yang tak terhindarkan, dan penelitian ini memberikan perspektif kritis serta solusi yang konstruktif agar transformasi digital ini tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kualitas belajar dan kesejahteraan mahasiswa.
Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya menampilkan angka-angka statistik, tetapi juga menyajikan manfaat yang nyata dalam meningkatkan proses pembelajaran online. Tujuan penelitian ini menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki dimensi sosial, yaitu hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan akademik serta membantu mencapai tujuan pendidikan yang lebih bermakna. Meskipun memiliki keterbatasan, penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal dalam upaya terus-menerus untuk meningkatkan pembelajaran daring agar benar-benar bisa mendukung produktivitas dan kesuksesan akademik mahasiswa di masa digital.
Kesimpulan
Penelitian ini menemukan temuan yang menarik terkait pembelajaran online di kalangan mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2025. Secara teknis, persiapan sudah cukup memadai, karena sebagian besar mahasiswa memiliki akses internet yang stabil dan merasa memiliki fleksibilitas dalam mengatur waktu belajar. Kemampuan dosen dalam menggunakan platform digital seperti Zoom dan Google Meet juga dinilai baik oleh mahasiswa. Namun, dari sisi kinerja belajar, hasilnya masih belum maksimal, terlihat dari rendahnya tingkat disiplin dalam mengatur waktu serta kesulitan dalam mempertahankan fokus selama proses belajar berlangsung.
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya ketimpangan antara aspek teknis dan pedagogis. Infrastruktur digital yang memadai tidak secara otomatis mampu menjadikan pembelajaran online lebih efektif. Meskipun pembelajaran online berhasil menyelesaikan aspek teknis dan memberikan fleksibilitas, ia masih kurang dalam memfasilitasi aspek psikologis dan motivasional yang sangat penting bagi keberhasilan belajar. Dalam kerangka Teori Gagne, pembelajaran online hanya mampu mencakup sebagian dari peristiwa instruksional seperti menarik perhatian dan menyajikan stimulus, namun masih lemah dalam mempertahankan perhatian, mendorong kinerja aktif, serta meningkatkan daya ingat.
Masalah ini terjadi karena desain pembelajaran online yang masih lebih menekankan pada transfer konten daripada pada fasilitasi partisipasi dan interaksi.
Mahasiswa tidak hanya membutuhkan akses ke materi pembelajaran, tetapi juga metode yang lebih interaktif, dukungan motivasional, pengaturan tugas yang seimbang, serta lingkungan belajar virtual yang bisa menjaga konsentrasi belajar.
Dari hasil penelitian ini, dapat diambil implikasi praktis bahwa pembelajaran online perlu diredesain secara lebih menyeluruh, tidak hanya fokus pada aspek teknis dan infrastruktural, tetapi juga pada aspek pedagogis dan psikologis. Institusi pendidikan harus mengembangkan strategi untuk meningkatkan kemampuan self-regulation mahasiswa, menciptakan metode pembelajaran yang lebih menarik, memfasilitasi interaksi secara bermakna, dan memberikan dukungan yang lebih personal bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan belajar daring. Pembelajaran online yang efektif memerlukan pendekatan holistik yang dapat menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pemahaman mendalam tentang psikologi belajar dan kebutuhan mahasiswa di era digital.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2013). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Rineka Cipta, Jakarta.
Bakhtiar, A. (2013). Filsafat ilmu. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Creswell, J. W. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Etikan, I., Musa, S. A., & Alkassim, R. S. (2016). Comparison of convenience sampling and purposive sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics, 5(1), 1–4.
Firman, F., & Rahayu, S. (2020). Pembelajaran online di tengah pandemi Covid-19. Indonesian Journal of Educational Science (IJES), 2(2), 81–89.
Ghozali, I. (2018). Aplikasi analisis multivariate dengan program IBM SPSS 25. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Neuman, W. L. (2014). Social research methods: Qualitative and quantitative approaches (7th ed.). Pearson Education Limited.
Sekaran, U., & Bougie, R. (2016). Research methods for business: A skill-building approach (7th ed.). John Wiley & Sons.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Suriasumantri, J. S. (2009). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Pustaka Sinar Harapan.
Gagne, R. M. (1985). The conditions of learning and theory of instruction (4th ed.). Holt, Rinehart and Winston.