Nibras Faisal M. Al Islam, Rakaesheif Umaya, Dhafin Fauzan Fadhlan Hidayat & Laura Serevina Sibuea
(Departemen Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya)
Pendahuluan
Penelitian ini mengkaji dampak program FISIP Development Center (Felocent) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) terhadap pengembangan karier mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Felocent berperan sebagai pengembangan karier yang menghubungkan mahasiswa dengan mitra, pengetahuan, dan persiapan dunia kerja. Penelitian ini didasari ketimpangan antara tuntutan dunia kerja dan kesiapan mahasiswa, yang meskipun dibekali teori akademik, masih kesulitan membangun jaringan, menyusun profil karier, dan memahami peluang kerja, diperparah dinamika dunia kerja yang terus berubah, sehingga menuntut fleksibilitas dan kemampuan adaptasi mahasiswa (Sholikah dkk., 2021). Oleh karena itu, kampus perlu berperan dalam memastikan kesiapan karier mahasiswa melalui lebih dari sekadar pembelajaran teoritis (Sholikah dkk., 2021), sementara dampak nyata Felocent terhadap mahasiswa Ilmu Pemerintahan masih perlu dibuktikan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi untuk menganalisis peran, karena pendekatan ini memungkinkan pemahaman mendalam terhadap faktor sosial yang memengaruhi interaksi mahasiswa dengan lingkungan profesional serta pembentukan kesiapan karier mereka (Tamarin & Fadilah, 2024). Pendekatan sosiologis dianggap tepat karena Felocent merupakan fenomena sosial yang melibatkan mahasiswa, institusi, dan mitra karier, sehingga dapat menjelaskan pengaruh pendampingan, jejaring, dan pembinaan karier terhadap kesiapan mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Penelitian ini juga mengadopsi Teori Interaksi Simbolik George Herbert Mead sebagai kerangka analisis utama, yang menekankan pembentukan makna dan cara pandang individu melalui interaksi sosial (Baharuddin, 2017). Tiga indikator utama teori ini adalah interaksi komunikatif melalui simbol, proses pemaknaan (meaning), dan pembentukan konsep diri (self) berdasarkan respons sosial dari lingkungan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak program Felocent terhadap pembentukan pandangan dan kesiapan karier mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana pengalaman mahasiswa melalui kegiatan, mentoring, dan jejaring di Felocent membentuk pemaknaan mereka terhadap dunia kerja (Baharuddin, 2021). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pihak kampus dalam mengoptimalkan program pengembangan karier agar efektif dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional (Sholikah dkk., 2021).
Epistemologi/Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami pandangan dan pengalaman mahasiswa terkait program Felocent. Metode ini dipilih karena menekankan eksplorasi pengalaman individu dan memungkinkan analisis yang komprehensif terhadap peran Felocent dalam membentuk persepsi serta kesiapan karier mahasiswa Ilmu Pemerintahan (Abidin, Mukhlis, & Zagladi, 2023).
Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi akun Instagram resmi Felocent @felocent.25 yang digunakan untuk memperkuat temuan penelitian dengan membandingkan hasil wawancara dan informasi resmi program. Dokumentasi ini membantu peneliti mengidentifikasi pola kegiatan dan penyampaian informasi analisis peran Felocent.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data untuk menyaring informasi, penyajian data dalam bentuk narasi, dan penarikan kesimpulan dengan membandingkan data primer dan sekunder guna memastikan validitas temuan (Suprapto, 2017). Melalui tahapan ini, penelitian dapat menilai secara menyeluruh dampak program kerja Felocent BEM FISIP UB terhadap pengembangan karier.
Pembahasan
Felocent dilaksanakan pada Senin, 20 Oktober 2025 di Auditorium UB dengan rangkaian kegiatan berupa talkshow, seminar, ekspo karier, workshop, dan bazar. Kegiatan ini menghadirkan pemateri dengan latar belakang profesional, seperti praktisi industri kreatif, sumber daya manusia, serta analis kebijakan dan keimigrasian, yang diharapkan dapat memberikan wawasan relevan bagi mahasiswa.
A. Pelaksanaan Program Berdasarkan Pandangan Ketua Pelaksana Felocent
1) Tujuan Utama Felocent
Tujuan utama Felocent berfokus pada kebutuhan mahasiswa untuk memiliki kesiapan karier berbasis teori maupun keterampilan. Ketua pelaksana menyatakan, “Felocent dirancang untuk membantu mahasiswa memahami tuntutan dunia kerja melalui soft skill dan hard skill, sekaligus membentuk pola pikir karier yang profesional. Program ini tidak hanya membekali pengetahuan teknis, tetapi juga kesiapan mental, adaptasi, serta kesadaran akan pentingnya personal branding.” Pernyataan ini menunjukkan interaksi komunikatif melalui simbol dalam penyampaian tujuan dan nilai program, yang mendorong pemaknaan bahwa kesiapan karier mencakup teori, keterampilan, kesiapan mental, dan personal branding.
2) Rancangan Kegiatan Felocent agar Relevan dengan Kebutuhan Karier
Kegiatan Felocent dirancang dengan menggandeng mitra kalangan praktisi agar mahasiswa memperoleh gambaran yang relevan. Ketua pelaksana menyebut bahwa “Materi Felocent mencakup penguatan soft skill, hard skill, serta keterampilan interview dan etika. Melalui pendekatan ini, Felocent berupaya menjembatani kesenjangan antara teori perkuliahan dan keterampilan profesional”.
Materi Felocent yang disampaikan melalui seminar dan workshop menunjukkan adanya interaksi komunikatif. Interaksi tersebut mendorong proses pemaknaan terhadap tuntutan dunia kerja, yang selanjutnya berkontribusi pada pembentukan konsep diri (self) mahasiswa sebagai calon tenaga.
3) Dampak Felocent terhadap Pandangan dan Kesiapan Karier Mahasiswa
Ketua pelaksana menilai dampak Felocent bergantung pada kemampuan mahasiswa mengolah pengetahuan yang diperoleh, sebagaimana disampaikan “Manfaat Felocent dengan respons mahasiswa dalam mengolah pengetahuan, sehingga program ini diharapkan mampu membentuk cara pandang.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya proses pemaknaan (meaning) yang terbentuk melalui interaksi komunikatif dalam kegiatan seminar dan diskusi, yang selanjutnya berkontribusi pada pembentukan konsep diri (self).
4) Hambatan dalam Pelaksanaan Felocent
Ketua pelaksana mengakui kendala dalam pelaksanaan Felocent, terutama minimnya peserta pada sesi akhir. Ia menyatakan “Peserta cenderung tidak mengikuti seluruh rangkaian sehingga pemahaman terhadap materi menjadi kurang optimal. Selain itu, kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap peran mitra menyebabkan interaksi diskusi tidak berlangsung maksimal”. Kondisi tersebut menunjukkan lemahnya interaksi komunikatif melalui simbol, yang menyebabkan proses pemaknaan (meaning) terhadap materi tidak berjalan utuh dan berdampak pada kurang optimalnya pembentukan konsep diri (self).
5) Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas Felocent
Ketua pelaksana menekankan pentingnya promosi kegiatan, menyatakan, “Upaya pengembangan Felocent dilakukan melalui promosi, penambahan mitra, serta menghadirkan pemateri yang relevan dengan bidang pemerintahan. Dengan penyesuaian tersebut, Felocent berpotensi menjadi program yang lebih efektif.” Upaya ini memperluas interaksi komunikatif melalui simbol, memberi mahasiswa kesempatan lebih banyak untuk berinteraksi dan memahami pesan.
B. Pelaksanaan Program Berdasarkan Pandangan Peserta Felocent
1) Pengaruh Felocent terhadap Pandangan Karier Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
Program Felocent berpengaruh signifikan terhadap pandangan karier mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Informan 1 menyatakan, “Felocent sangat memengaruhi saya, terutama terkait permasalahan branding. Yang dulunya malu untuk melakukan branding, sekarang menjadi lebih berani.” Informan 2 menambahkan, “Kegiatan Felocent ini bermanfaat sebagai bekal kita dapat mempersiapkan diri ketika memasuki dunia kerja”. Kesimpulannya, Felocent meningkatkan kepercayaan diri dalam personal branding.
Pernyataan kedua informan menunjukkan adanya interaksi komunikatif melalui simbol dalam Felocent, di mana materi dan praktik personal branding dipahami oleh mahasiswa. Interaksi ini mendorong proses pemaknaan yang mengubah cara pandang pentingnya personal branding dan kesiapan kerja.
2) Keterampilan yang Didapatkan dalam Felocent
Peserta Felocent memperoleh keterampilan praktis relevan dengan dunia kerja. Informan 1 menjelaskan, “Saya mendapatkan keterampilan mengenai bagaimana cara membangun diri untuk berkarier. Sebagai contoh, pemateri mengajarkan cara melakukan wawancara kerja yang baik.” Informan 2 menambahkan, “Pastinya ada, mulai dari bagaimana manajemen waktu yang baik hingga tips dan trik.” Kedua informan menunjukkan bahwa Felocent memberikan keterampilan konkret seperti teknik wawancara dan manajemen waktu. Pernyataan ini menunjukkan interaksi komunikatif melalui simbol, di mana materi disampaikan melalui penjelasan dan contoh.
3)Tantangan yang Dihadapi Selama Program Berlangsung
Tantangan utama yang dihadapi peserta program Felocent adalah bentrok jadwal dengan perkuliahan. Informan 1 menyatakan, “Kendala yang saya alami terkait waktu, karena berlangsung bersamaan dengan jadwal kuliah.” Informan 2 menambahkan, “Tidak dapat mengikuti kegiatan secara penuh karena bentrok dengan jadwal.” Penjadwalan yang tidak sinkron ini membatasi interaksi komunikatif melalui simbol, sehingga proses pemaknaan terhadap materi tidak berjalan secara optimal.
4) Saran terhadap Program Felocent
Kedua informan memberikan saran konsisten terkait penjadwalan program Felocent. Informan 1 menyarankan, “Saran saya, waktunya bisa dilaksanakan di hari Sabtu karena tidak ada mata kuliah.” Informan 2 sejalan dengan hal tersebut, menyatakan, “Saran dari saya, mungkin acara Felocent dapat dilaksanakan saat weekend, sehingga peserta dapat mengikuti acara dengan maksimal.” Rekomendasi utama peserta adalah menggeser pelaksanaan program ke akhir pekan untuk memastikan partisipasi penuh tanpa mengorbankan kewajiban akademik.
Secara aksiologis, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan evaluasi bagi BEM FISIP UB dan pihak fakultas dalam mengoptimalkan program pengembangan karier melalui penguatan interaksi dan keterlibatan mahasiswa. Selain itu, penelitian ini memberi manfaat akademik dengan menunjukkan relevansi Teori Interaksi Simbolik dalam menganalisis pembentukan pandangan dan kesiapan karier mahasiswa Ilmu Pemerintahan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan program Felocent berperan dalam membentuk pandangan dan kesiapan karier mahasiswa Ilmu Pemerintahan melalui proses interaksi sosial yang terjadi selama kegiatan. Melalui interaksi komunikatif dengan pemateri dan mitra, mahasiswa mengalami proses pemaknaan yang mengubah cara pandang terhadap dunia kerja serta membentuk konsep diri sebagai calon tenaga profesional yang siap dan percaya diri. Meskipun demikian, efektivitas program cenderung belum optimal akibat kendala penjadwalan dan keterlibatan peserta yang belum menyeluruh. Secara umum, kecenderungan menunjukkan bahwa Felocent memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan karier mahasiswa apabila interaksi, partisipasi, dan perencanaan program dapat lebih ditingkatkan.
Daftar Pustaka
Abidin, H., Mukhlis, I., & Noviarakhman Zagladi, A. (2023). Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan Multi-method Approach for Qualitative Research: Literature Review with NVivo 12 PRo Mapping.
Sholikah, M., Muhyadi, M., Indartono, S., Kenzhaliyev, O. B., & Kassymova, G. K. (2021). Self-Efficacy and Student Achievement for Enhancing Career Readiness: The Mediation of Career Maturity. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 27(1), 15–25. https://doi.org/10.21831/jptk.v27i1.35657
Suprapto, H. (2017). Metodologi Penelitian Untuk Karya Ilmiah. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Tamarin, V., & Fadilah, W. A. (2024). Implementasi Pendekatan Sosiologi Terhadap Pembentukan Tingkah Laku Siswa Sekolah Dasar. Al-Madrasah Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 8(4), 1944. https://doi.org/10.35931/am.v8i4.3717
Baharuddin. (2017). INTERAKSI SOSIAL DALAM PELAYANAN AKADEMIK DALAM KEHIDUPAN PENDIDIKAN TINGGI DITINJAU DARI TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK. Jurnal AlHikmah, 11(2), 1–12. https://doi.org/10.24260/al-hikmah.v11i2.849