Perubahan Struktur Sosial Masyarakat Banda Pasca Penaklukan VOC Tahun 1621

Putri Dwi Ariani (Universitas Negeri Malang)

Pendahuluan
Kepulauan Banda bukan hanya sekumpulan pulau kecil di Kepulauan Maluku; pulau ini merupakan tempat di mana rempah pala yang terkenal, tapi juga dipenuhi dengan tragedi kemanusiaan yang kelam. Sebelum tahun 1621, kawasan ini berdiri sebagai pusat ekonomi, kedaulatan politik, dan struktur sosial yang mandiri dan setara di bawah para pemimpin adat yang dikenal sebagai “Orang Kaya.” Namun, saat VOC datang untuk memonopoli perdagangan dan pada akhirnya melakukan genosida di bawah kekuasaan Jan Pieterszoon Coen, itu bukan sekadar aksi militer biasa. Ini adalah proyek genosida dan rekayasa sosial yang secara sistematis memutus akar peradaban dan identitas asli “Wandan.” Tragedi eksekusi 44 orang kaya di Pari Rante serta pengungsian penduduk asli yang tersisa menandai awal hilangnya identitas maritim Banda. Identitas tersebut kemudian digantikan oleh struktur masyarakat perkebunan yang multietnis dan hierarkis. Akibatnya, struktur sosial Banda yang modern sebagai masyarakat multikultural tumbuh dari sisa-sisa perbudakan dan sistem kolonial pada saat itu.

Dari Genosida Hingga Rekayasa Sosial
Perubahan struktur sosial masyarakat Banda dimulai dengan tragedi berdarah yang dikenal dengan Genosida Banda pada tahun 1621. Karena ambisi VOC untuk menguasai perdagangan pala, di pulau itu dihadapkan pada perlawanan keras dari penduduk asli Banda karena lebih menyukai perdagangan bebas. Menanggapi hal ini, J.P. Coen memerintahkan untuk membunuh hampir seluruh penduduknya, sementara 44 pemimpin adat tradisional atau “Orang Kaya” ditangkap, disiksa, dan dieksekusi secara brutal di Pari Rante. Tragedi ini menyebabkan dari sekitar 15.000 jiwa hanya tersisa kurang dari 1.000 orang yang bertahan di pulau tersebut. Dampak terlihat dari kekosongan populasi ini adalah gelombang besar pengungsian. Penduduk yang selamat melarikan diri ke berbagai daerah kecil di Maluku, terutama ke Kepulauan Kei. Pelarian ini juga menandai hilangnya kedaulatan masyarakat asli terhadap tanah dan sumber daya alam mereka di Kepulauan Banda.
Setelah genosida kepulauan tersebut dibagi dan diserahkan kepada pemukim kulit putih Belanda yang dikenal sebagai perkeniers atau pemilik perkebunan untuk didirikan perkebunan pala, mereka juga melakukan rekayasa sosial untuk memastikan produksi pala tetap berjalan dan terjaga di bawah kendali mereka. Karena kepulauan telah kosong, VOC mendatangkan tenaga kerja paksa dan budak dari berbagai daerah seperti Jawa dan Sulawesi untuk bekerja di perkebunan. VOC juga membentuk sistem masyarakat baru berdasarkan struktur perkebunan kolonial (Sinaga 2025). Sistem ini kemudian menciptakan stratifikasi sosial baru yang tidak seimbang, yakni di atas ada Perkeniers sebagai pemilik lahan, diikuti oleh kelompok pendatang merdeka (seperti pedagang Tionghoa dan Arab), dan di posisi terendah adalah budak dan pekerja paksa. Seiring berjalannya waktu, interaksi yang terjadi melahirkan dinamika sosial yang multikultural. Pertemuan antara berbagai etnis pendatang, pekerja paksa, dan sedikit penduduk asli Banda yang tersisa menciptakan struktur sosial dan identitas baru yang disebut “Masyarakat Banda Neira” yang kita kenal hingga saat ini. Masyarakat ini tidak lagi didasarkan pada silsilah penduduk asli sebelum tahun 1621. Meski mereka pernah memiliki pengalaman masa lalu yang menyakitkan, penduduk Banda baru terlihat lebih mampu hidup di tengah-tengah zaman yang terus berubah (Farid 2024). Mereka bersatu berdasarkan solidaritas yang terbentuk dari sejarah bersama sebagai penduduk Banda, baik asli maupun pendatang, yang terikat dengan tanah Banda. Pandangan diri masyarakat pun bergeser dari yang dulunya masyarakat bahari yang bebas menjadi masyarakat perkebunan yang heterogen dan tergantung pada sistem kolonial.

Kesimpulan
Penaklukan VOC tahun 1621 merupakan peristiwa paling kelam sekaligus paling menentukan dalam sejarah sosiologis Banda. Genosida yang dilakukan Jan Pieterszoon Coen berhasil menghapus struktur sosial tradisional para “Orang Kaya” dan memaksa penduduk asli menjadi pengungsi di wilayah mereka sendiri. Sebagai gantinya, VOC membangun kembali struktur sosial yang baru melalui sistem perbudakan dan migrasi paksa yang menghasilkan struktur multietnis. Meskipun kekejaman di masa lalu tetap menjadi ingatan akan penderitaan, masyarakat Banda modern adalah hasil dari percampuran budaya unik yang bertahan di atas puing-puing tragedi 1621. Ini membuktikan bahwa kolonialisme tidak hanya menjajah wilayah tetapi juga membentuk ulang identitas manusia dan struktur sosial secara mendasar.

Daftar Rujukan

Abdin, M., Renyaan, K., & Temarwut, R. (2024). Wandan dalam Memori Sejarah: Eksodus Oran Banda di Kepulauan Key Abad XVII dalam Ingatan Kolektif Masyarakat Banda Eli dan Banda Elat. Banda Historia: Julnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya, 2(1).
De Volkskrant. (1995-14-10). [Bandanezen Uitgeroeid]. Delpher. https://resolver.kb.nl/resolve?urn=ABCDDD:010870967:mpeg21:a0754
Farid, M. (2024). Dari Memoria Passionis Menuju Truestoriografi: Peristiwa Genosida Banda Tahun 1621 Sebagai Refleksi. Banda Historia: Julnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya, 2(1).
Farid, M., & Thalib, U. (dkk.). (2018). Prosiding Seminar Nasional Banda Naira 2018: Rempah dan Jaringan Perdagangan Global. Banda Naira: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STKIP Hatta-Sjahrir.
Lailiyah, N. I., Khairunnisaa, A., & Ekaristiningrum, E. D. (2021). Merawat Ingatan Peristiwa Genosida dan Dominasi VOC di Banda Tahun 1621 (Dalam Perspektif Sosial-Ekonomi). Historiography: Jurnal of Indonesian History and Education, 1(4), 1-15.
Murwani, P., Watloly, A., Saija, D. E. B., & Wijayai, F. A. (2025). Perubahan Sosial dalam Falsafah Diri Masyarakat Kepulauan Banda. Jurnal Noken: Ilmu Ilmu Sosial, 11(2), 433-450.
Sinaga, R., Lirinza, A. Z., Yanti, D. D., Hulu, E. M. W., & Sigiro, L. T. (2025). Dari Perlawanan ke Penaklukan: Strategi VOC dalam Menguasai Banda Neira dan Konsekuensi Jangka Panjangnya. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4)
Thalib, U. (2016). Sejarah Bahari Orang Banda: Menelusuri Jejak Kebaharian Orang Banda yang Hilang. Paradigma: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora, 2.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *